Pengamat Timur Tengah Duga Amerika Tak Berani Buka Paksa Selat Hormuz, Ini Pertimbangannya
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi senjata paling mematikan yang berhasil melumpuhkan ekonomi global, khususnya bagi AS.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai sebagai senjata paling mematikan yang melumpuhkan ekonomi global, terutama bagi Amerika Serikat.
- Menurut pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf, langkah ini membuat posisi AS terjepit karena meski berstatus super power, mereka tidak berani membuka paksa jalur tersebut secara militer.
- Faisal menilai serangan darat ke Iran akan sangat berisiko, sehingga AS memilih jalur diplomasi, menawarkan pengelolaan bersama Selat Hormuz. Namun, tawaran itu ditolak Iran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi senjata paling mematikan yang berhasil melumpuhkan ekonomi global, khususnya bagi Amerika Serikat.
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai, langkah Iran menutup jalur distribusi minyak tersebut telah membuat posisi Amerika Serikat terjepit.
Faisal mengungkapkan, meski Amerika Serikat berstatus sebagai negara super power, mereka ternyata tidak berani mengambil langkah militer untuk membuka paksa selat tersebut.
Hal itu diungkapkan Faisal saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Rabu (15/4/2026). "Negara super power seperti Amerika ternyata tidak berani membuka paksa Selat Hormuz," kata Faisal.
Menurut Faisal, Amerika menyadari bahwa melakukan serangan darat ke Iran untuk mengamankan selat tersebut adalah kesalahan besar yang sangat berisiko.
Ketakutan ini terlihat dari upaya diplomasi Amerika yang justru menawarkan ide untuk mengelola Selat Hormuz secara bersama-sama dengan Iran.
"Amerika menawarkan bagaimana kita mengelola Selat Hormuz bersama. Tapi Iran menolak dengan alasan Amerika tidak punya kedaulatan di sana," ungkapnya.
Penutupan jalur logistik ini pun berdampak langsung pada meroketnya harga BBM di tingkat dunia, yang memicu protes besar di dalam negeri AS terhadap Presiden Donald Trump.
Namun, di sisi lain, Faisal juga menyoroti nasib kapal-kapal tanker milik Indonesia yang hingga kini dilaporkan belum bisa melintas di perairan strategis tersebut. Ia menduga hal ini berkaitan erat dengan posisi diplomasi Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu condong membela Amerika dan Israel.
"Masih dipertanyakan kenapa kapal tanker Indonesia belum bisa melintas. Ini mungkin dampak dari kebijakan luar negeri kita," tuturnya.
Faisal menilai, keberanian Iran dalam memegang kendali penuh atas Selat Hormuz telah membalikkan keadaan dalam peta kekuatan geopolitik. Iran kini berada pada posisi yang mendikte Amerika Serikat, bukan sebaliknya.
"Iran yang bakal menentukan kapan perang berakhir. Selama Amerika melancarkan agresi, Iran akan tetap bertahan dengan menutup selat itu," tandas Faisal.
Berikut petikan wawancara khusus dengan Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf bersama Tribunnews;
Tanya: Anda bilang posisi Indonesia sedang serba salah?
Jawab: Saya pernah WA (WhatsApp) salah satu pimpinan Hamas. Mereka kecewa ketika masuk Dewan Perdamaian.
Baca tanpa iklan