Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.518, AS Tetap Longgarkan Sanksi Minyak, Kremlin Sumringah
AS memperpanjang pelonggaran sanksi minyak Rusia, Kremlin sambut keputusan itu dan menyebut dunia tak bisa mengabaikan minyak Rusia di tengah krisis.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Kremlin menyebut pengecualian sanksi AS atas minyak Rusia menunjukkan peran pentingnya dalam pasar energi global.
- AS memperpanjang izin pembelian minyak Rusia hingga 16 Mei untuk menekan lonjakan harga akibat perang AS-Israel Vs Iran dan penutupan Selat Hormuz.
- Sejumlah negara Asia mulai mengimpor minyak Rusia, sementara harganya kini melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel.
- Pendapatan minyak Rusia pun naik tajam, meski kebijakan ini dikritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.518 pada Selasa (21/4/2026).
Pemerintah Rusia melalui Kremlin menyatakan bahwa keputusan Amerika Serikat untuk kembali memberikan pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak Rusia menunjukkan betapa pentingnya peran negara tersebut dalam pasar energi global.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia tetap menjadi pemasok energi yang signifikan, terutama di tengah kondisi pasar yang sedang tidak stabil.
“Rusia tetap menjadi pemain yang bertanggung jawab dan sangat penting di pasar energi global,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, Senin (20/4/2026).
“Pasar sedang mengalami masa-masa sulit dan, tentu saja, volume produksi Rusia sulit untuk diabaikan," tambahnya.
Departemen Keuangan AS sebelumnya memperpanjang izin pembelian minyak Rusia untuk periode 17 April hingga 16 Mei.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya menekan lonjakan harga energi dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Beberapa negara di Asia bahkan mendorong kebijakan ini, karena mereka membutuhkan alternatif pasokan akibat terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Iran memblokir akses bagi kapal-kapal terkait AS dan Israel, sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi AS-Israel sejak 28 Februari di wilayahnya.
Sejumlah negara mulai memanfaatkan peluang tersebut. Indonesia, misalnya, telah mengumumkan kesepakatan baru untuk mengimpor minyak mentah Rusia, sementara Malaysia melalui perusahaan energi nasionalnya, Petronas, juga tengah menjajaki pembelian serupa.
Baca juga: Indonesia-Malaysia Berburu Minyak ke Rusia, tapi Emas Hitam Moskow Jadi Target Serangan Ukraina
Selain itu, Korea Selatan dan Filipina sudah lebih dulu membeli minyak Rusia setelah pelonggaran sanksi sebelumnya. Di sisi lain, ekspor minyak Rusia ke China juga mengalami peningkatan signifikan.
Menariknya, harga minyak Rusia yang sebelumnya dijual dengan diskon sejak invasi ke Ukraina pada 2022, kini justru melonjak dan diperdagangkan dengan harga premium.
Jenis minyak andalan Rusia, Urals, bahkan tercatat menembus harga di atas 100 dolar AS per barel sepanjang April. Hal ini terjadi akibat gangguan pasokan energi global yang semakin besar.
Namun, kebijakan AS ini mendapat kritik dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menilai langkah tersebut justru menguntungkan Rusia.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah tidak berencana memberikan perpanjangan tambahan di masa mendatang.
Baca tanpa iklan