Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

AS Gunakan AI untuk Mendeteksi Ranjau Iran di Selat Hormuz

Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in AS Gunakan AI untuk Mendeteksi Ranjau Iran di Selat Hormuz
HO/IST/dok. Roland Berger
TERTUTUP UNTUK AS DAN ISRAEL - Iran menolak Selat Hormuz kembali ke status quo yang dinikmati sebelum pecah perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz tertutup bagi AS dan sekutunya, tetapi kapal dari negara lain tetap dapat menggunakannya. - Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz. 

Sebelumnya, pembaruan sistem AI untuk mengenali jenis ranjau baru bisa memakan waktu hingga enam bulan.

Kini, proses tersebut dapat dipangkas menjadi hanya beberapa hari.

“Jika ada kendaraan bawah laut tanpa awak di Laut Baltik yang dilatih untuk mendeteksi ranjau Rusia, lalu harus dipindahkan ke Selat Hormuz untuk mendeteksi ranjau Iran, dengan teknologi kami Angkatan Laut bisa siap dalam seminggu, bukan setahun," kata Robinson memberikan ilustrasi terkait fleksibilitas teknologi ini.

Penggunaan kendaraan bawah laut tanpa awak (UUV) yang didukung AI ini juga diharapkan dapat mengurangi risiko bagi personel militer, sekaligus meningkatkan efektivitas operasi di wilayah yang berbahaya.

Meski demikian, hingga kini pihak Angkatan Laut AS belum memberikan komentar resmi terkait detail implementasi proyek tersebut, lapor Economic Times.

Perang AS-Israel Vs Iran

Sebelumnya, AS dan Israel memulai agresinya terhadap Iran pada 28 Februari dengan menyerang sejumlah wilayah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, lalu digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, melalui persetujuan Majelis Ahli Ulama Iran.

Rekomendasi Untuk Anda

Serangan AS-Israel terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa yang belum menghasilkan kesepakatan.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa programnya hanya untuk kepentingan energi sipil.

Menanggapi serangan kedua negara tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Iran juga menghentikan perundingan nuklir dengan AS dan memblokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran krisis energi global.

Pada hari ke-40 konflik, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan mulai 8 April, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.

Perundingan berikutnya pada 11 April di Islamabad, Pakistan, tidak membuahkan kesepakatan karena masih ada isu krusial yang belum terselesaikan.

AS melakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz setelah gagalnya mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut.

Pada 25 April, AS berencana mengirim delegasi ke Islamabad untuk membuka peluang negosiasi, namun Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS, sehingga AS membatalkan kunjungan delegasinya.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas