Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tak Hanya Jerman, AS Juga Berencana Tarik Pasukannya dari Spanyol dan Italia

Presiden AS, Donald Trump memperluas ancaman penarikan pasukannya dari wilayah Eropa. Setelah Jerman, Spanyol dan Italia juga terkena getahnya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth telah menandatangani perintah penarikan yang dijadwalkan rampung dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan ke depan.

Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi mendalam terhadap strategi militer AS di wilayah Eropa.

"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh atas postur kekuatan kami di Eropa, dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi terkini di lapangan," ujar Parnell dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026), mengutip Reuters.

Menanggapi pengumuman tersebut, Pemerintah Jerman tampak tenang.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul menyatakan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan pengurangan pasukan ini.

Baca juga: Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan

"Jerman sudah siap. Kami terus mendiskusikan hal ini secara intensif dengan semangat saling percaya di internal NATO," ungkap Wadephul.

Meski demikian, langkah AS ini tetap memicu kekhawatiran para analis mengenai masa depan stabilitas keamanan di Eropa, mengingat peran vital Jerman sebagai pusat komando pasukan Amerika di Benua Biru selama puluhan tahun.

Berawal dari Kritikan Merz

Rekomendasi Untuk Anda

Hubungan panas antara AS dengan Jerman berawal dari Kanselir Jerman, Friedrich Merz melontarkan kritikan pedas terhadap kebijakan luar negeri Trump.

Merz menilai AS saat ini tengah berada dalam posisi yang memalukan, karena terus-menerus "dipermalukan" oleh diplomasi Iran yang cerdik.

Dalam sebuah diskusi bersama pelajar di Marsberg, Jerman, Merz tidak menahan diri untuk menyebut bahwa AS sedang dipermalukan secara terang-terangan oleh rezim Teheran, khususnya oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Pihak Iran sangat mahir bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat ahli dalam 'tidak bernegosiasi'."

"Mereka membiarkan delegasi AS terbang jauh-jauh ke Islamabad hanya untuk memulangkan mereka tanpa hasil apa pun," sindir Merz, mengutip The Guardian.

Menanggapi kritikan Merz, Trump menyerang balik pemimpin Jerman tersebut dengan menyebutnya tidak paham apa yang sedang dia bicarakan terkait isu nuklir dan strategi menghadapi Iran.

"Dia (Merz) sama sekali tidak tahu apa yang dia bicarakan," tegas Trump, mengutip dari CNN.

Dalam pembelaannya, Trump membanggakan rekam jejaknya pada periode pertama kepresidenannya.

Ia mengeklaim bahwa kebijakan "tekanan maksimum" miliknya, termasuk penarikan diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan pemberian sanksi ekonomi, telah berhasil membuat Iran bertekuk lutut secara finansial.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas