Proyek Kebebasan Diluncurkan, Menhan AS: Kami Tidak Mencari Pertengkaran dengan Iran
AS menjalankan Proyek Kebebasan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sambil menegaskan tidak mencari konflik dengan Iran.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Trump menyebut operasi ini sebagai misi kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal yang kehabisan perbekalan setelah lebih dari dua bulan terjebak di Teluk Persia.
Ia mengatakan operasi akan dimulai pada Senin pagi dan memperingatkan bahwa setiap gangguan akan ditindak tegas.
Bagaimana tanggapan Iran?
Ketegangan meningkat ketika Iran mengklaim telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal perang AS yang mendekati Selat Hormuz.
Korea Selatan juga melaporkan bahwa salah satu kapal dagangnya, HMM Namu, mengalami ledakan dan kebakaran di ruang mesin, meskipun penyebabnya belum dipastikan.
Seorang pejabat Korea Selatan mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam upaya AS memulihkan keamanan pelayaran di selat tersebut.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan dua kapal terkena serangan di lepas pantai Uni Emirat Arab, sementara perusahaan minyak Adnoc menyatakan salah satu kapal tankernya diserang drone Iran.
Media pemerintah Iran mengklaim serangan drone dan rudal terhadap UEA sebagai respons atas tindakan militer AS.
Salah satu serangan menyebabkan kebakaran di fasilitas minyak di Fujairah, yang mendorong pihak berwenang menyatakan hak untuk membalas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini.
Ia mengatakan pembicaraan damai tengah berlangsung dengan mediasi Pakistan, serta memperingatkan AS dan UEA agar tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Bagaimana Proyek Kebebasan berlangsung?
Mengutip BBC, Komando Pusat AS (Centcom) menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem tak berawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel militer.
Dalam konferensi hari pertama operasi pada Senin (4/5/2026), Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa kapal dari 87 negara terdampar di kawasan Teluk, dan AS telah menghubungi berbagai kapal serta perusahaan pelayaran untuk mengatur arus lalu lintas.
Namun, belum jelas apakah AS akan memberikan pengawalan militer langsung bagi kapal-kapal tersebut.
Mick Mulroy, mantan pejabat pertahanan AS, menilai operasi ini kemungkinan berfokus pada perlindungan udara dan pertahanan dari serangan, bukan pengawalan langsung.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan operasi bergantung pada kepercayaan kapal dan perusahaan asuransi terhadap keamanan pelayaran.
Baca tanpa iklan