Permintaan Iran jika AS Ingin Damai: Kesepakatan Adil dan Komprehensif!
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan posisi negaranya soal perdamaian dengan Amerika Serikat (AS). Minta kesepakatan yang adil.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Garudea Prabawati
Meski dikenal sebagai sekutu dekat, posisi China kini berada di persimpangan jalan.
Di satu sisi, Beijing mengecam keras blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Namun di sisi lain, China juga mulai merasa 'gerah' dengan aksi Iran yang menutup total Selat Hormuz, karena sangat mengganggu arus perdagangan energi global menuju Tiongkok.
Wang Yi pun didorong untuk memainkan peran sebagai mediator sebelum kedatangan Trump pekan depan.
Di sisi lain, Trump mengonfirmasi rencana pertemuannya dengan Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 mendatang.
Baca juga: Merasa Prihatin, China Desak Iran untuk Segera Berlakukan Gencatan Senjata Total
Salah satu poin krusial yang akan menjadi meja perundingan kedua pemimpin dunia ini adalah situasi panas di Iran.
Dalam keterangannya kepada media, Trump menyebut bahwa meskipun tensi di Timur Tengah sedang tinggi, China menunjukkan sikap yang kooperatif.
Ia pun memuji sikap Xi Jinping yang dianggapnya tetap menghormati langkah militer AS di kawasan tersebut.
"Kami akan membahasnya (isu Iran). Itu akan jadi salah satu topik utama. Sejauh ini, dia (Xi) sangat kooperatif terkait hal ini," ujar Trump, mengutip Anadolu.
Menariknya, Trump menyoroti fakta bahwa China sebenarnya memiliki ketergantungan besar pada pasokan energi dari kawasan konflik.
Sekitar 60 persen kebutuhan minyak Negeri Tirai Bambu tersebut mengalir melalui Selat Hormuz.
Namun, Trump menegaskan bahwa China tidak mencoba mengintervensi operasi AS.
"China tidak menantang kami. Mereka sangat menghormati posisi kita," tambahnya.
Trump mengklaim kedekatan personalnya dengan Xi Jinping — yang ia sebut sebagai 'pria hebat' — menjadi kunci harmonisnya hubungan kedua negara di tengah gejolak global.
Selain urusan geopolitik dan keamanan, Trump juga memastikan bahwa urusan ekonomi tetap menjadi prioritas.
Ia memamerkan betapa besarnya keuntungan yang diraup AS dari hubungan dagang dengan Tiongkok saat ini.
"Kami berbisnis besar dengan Tiongkok dan menghasilkan banyak uang."
"Situasinya sudah jauh berbeda dan jauh lebih baik sekarang," ungkap Trump.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Baca tanpa iklan