Permintaan Iran jika AS Ingin Damai: Kesepakatan Adil dan Komprehensif!
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan posisi negaranya soal perdamaian dengan Amerika Serikat (AS). Minta kesepakatan yang adil.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengungkapkan keinginan negaranya jika Amerika Serikat (AS) benar-benar serius ingin berdamai dengan Teheran.
- Saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, Araghchi menyebut akan menyetujui perjanjian jika kesepakatan tersebut bersifat adil dan komprehensif bagi semua pihak.
- Sikap tegas Iran ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya "kemajuan luar biasa" dalam pembicaraan kedua negara.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran menegaskan sikapnya dalam proses negosiasi damai dengan Amerika Serikat (AS) guna mengakhiri ketegangan bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Teheran menyatakan hanya akan menyetujui perjanjian jika kesepakatan tersebut bersifat adil dan komprehensif bagi semua pihak.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, usai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, di Beijing pada Rabu (6/5/2026).
"Kami akan melakukan upaya terbaik untuk melindungi hak-hak dan kepentingan sah kami dalam negosiasi ini."
"Kami hanya menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif," ujar Araghchi sebagaimana dikutip dari Reuters.
Sikap tegas Iran ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya "kemajuan luar biasa" dalam pembicaraan kedua negara.
Sebagai bentuk iktikad baik, Trump sempat mengumumkan penangguhan sementara "Project Freedom".
Operasi militer tersebut untuk mengawal kapal-kapal dagang melewati Selat Hormuz yang saat ini masih dalam blokade.
Meskipun demikian, Araghchi tidak memberikan respons langsung terkait tawaran jeda operasi militer AS tersebut.
Iran diketahui telah menutup akses Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu.
Baca juga: Obama Bongkar Rahasia Lama, Sebut Netanyahu Pernah Desak AS Gempur Iran
Pertemuan Abbas Araghchi dengan Wang Yi
Pertemuan antara Araghchi dengan Wang Yi di Beijing disebut-sebut sebagai langkah krusial Teheran mencari dukungan.
Menariknya, diplomasi Iran-China ini hanya berselisih sepekan dari jadwal pertemuan antara Trump dengan Presiden China, Xi Jinping.
Fokus utama pembicaraan Iran dengan China negara ini bukan lagi sekadar basa-basi diplomatik.
Sumber Al Jazeera menyebut ada dua misi utama yang dibawa Araghchi, yakni memastikan gencatan senjata tetap bertahan dan mencari jalan keluar untuk membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini lumpuh.
"Hormuz membuktikan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik ini," tegas Araghchi di hadapan Wang Yi.
Baca tanpa iklan