Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Terjepit Perang Iran, Trump 'Ngemis' Bantuan ke Xi Jinping demi Bisa Bujuk Teheran

Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping bukan membahas perdagangan, melainkan demi bisa membujuk Iran.

Tayang:
Baca dan Ambil Poin
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Nuryanti
zoom-in Terjepit Perang Iran, Trump 'Ngemis' Bantuan ke Xi Jinping demi Bisa Bujuk Teheran
Dok White House
MINTA BANTUAN CHINA - Presiden AS Donald Trump menyapa Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelum pertemuan bilateral di terminal Bandara Internasional Gimhae, Kamis, 30 Oktober 2025, di Busan, Korea Selatan. Pertemuan Trump dengan Xi Jinping kali ini dengan membawa misi khusus, yakni meminta bantuan kepada China untuk bisa membujuk Iran. 

Pertemuan di Balai Agung Rakyat ini diprediksi akan berlangsung alot.

Di satu sisi, Trump membutuhkan pencapaian nyata untuk meredam kritik di dalam negeri.

Di sisi lain, Beijing tampaknya menyadari posisi lemah Trump dan kemungkinan besar akan menuntut konsesi besar, terutama terkait pelonggaran kontrol ekspor teknologi cip yang selama ini menjepit industri Cina.

Baca juga: Trump Sebut Gencatan Senjata di Fase Kritis, Iran Siap dengan Apa Pun yang Terjadi

Posisi Xi Jinping di Atas Angin

Analis politik internasional menyebut Trump sedang berada dalam posisi "lemah" saat menginjakkan kaki di China.

Penyebab utamanya adalah fokus Washington yang terbelah akibat perang yang sedang berlangsung dengan Iran.

Konflik di Timur Tengah tersebut tidak hanya menguras logistik militer AS, tetapi juga memicu lonjakan harga energi di dalam negeri Amerika yang membuat popularitas Trump di mata pemilih domestik mulai goyah.

Di sisi lain, Beijing tampak lebih percaya diri.

Rekomendasi Untuk Anda

Salah satu "kartu as" yang dipegang Xi Jinping adalah dominasi Tiongkok atas rantai pasok logam tanah jarang.

Mineral kritis ini sangat dibutuhkan oleh industri teknologi dan pertahanan AS.

"Dengan menahan ekspor tanah jarang, Tiongkok berhasil memaksa AS untuk duduk di meja perundingan dan melunakkan kebijakan tarifnya," tulis laporan South China Morning Post.

Keberhasilan ini memberikan Tiongkok daya tawar yang lebih besar dibandingkan periode pemerintahan Trump yang pertama.

Tekanan ekonomi juga menjadi faktor penentu.

Harga bensin di Amerika Serikat telah melambung melewati angka $4,50 per galon akibat gangguan di Selat Hormuz.

Kondisi ini membuat inflasi tak terkendali.

Trump sangat membutuhkan kemenangan cepat di Beijing — baik berupa komitmen pembelian pesawat Boeing maupun produk pertanian — untuk menenangkan pasar dan menurunkan tensi ekonomi di dalam negeri.

Namun, Xi Jinping bukanlah lawan yang mudah.

Beijing diprediksi akan menuntut konsesi besar, terutama terkait isu Taiwan dan pelonggaran sanksi terhadap perusahaan teknologi Tiongkok, sebelum memberikan bantuan apa pun untuk menstabilkan pasar global.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas