Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz
Selain ancaman sabotase langsung, Iran juga disebut memiliki alat tekanan lain yang lebih halus: izin akses perbaikan kabel.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz
Ringkasan Berita:
- Media Iran menyoroti kemungkinan penggunaan kabel internet bawah laut di Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
- Jalur digital global sangat bergantung pada kabel bawah laut yang membawa lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional.
- Ancaman terhadap kabel tersebut dinilai bisa mengguncang ekonomi, komunikasi militer, hingga sistem keuangan dunia.
TRIBUNNEWS.COM - Selama puluhan tahun, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia.
Namun di tengah memanasnya konflik Iran dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ancaman baru mulai muncul: potensi gangguan terhadap infrastruktur internet global.
Media-media Iran dalam beberapa pekan terakhir menyoroti pentingnya kabel bawah laut di Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai titik strategis baru dalam persaingan geopolitik modern.
Isu tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di kawasan tidak lagi sekadar menyasar jalur energi, tetapi juga dapat mengganggu sistem komunikasi dan ekonomi digital dunia.
Baca juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Negara yang Berperang dengan Teheran
Kabel Bawah Laut Jadi Titik Rawan Baru
Pada 24 April lalu, Kantor Berita Fars Iran menerbitkan artikel berjudul “Kemacetan Hormuz… di mana internet kawasan bergantung pada seutas benang.”
Dalam laporan itu, kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz disebut sebagai “infrastruktur tersembunyi” yang bisa berubah menjadi titik kerentanan strategis.
Media Iran lainnya, Tasnim, bahkan mengangkat kemungkinan penerapan “tata kelola hukum” terhadap kabel-kabel tersebut, termasuk pengaturan jalur, perawatan, hingga potensi pengenaan biaya kepada operator internasional.
Nada pemberitaan kemudian meningkat dengan peringatan kalau gangguan terhadap kabel bawah laut di Hormuz dapat melumpuhkan sistem ekonomi dan pasar keuangan negara-negara Teluk.
Internet Dunia Bergantung pada Kabel Laut
Berbeda dari anggapan umum bahwa internet sepenuhnya berbasis satelit atau teknologi nirkabel, sebagian besar lalu lintas data global sebenarnya berjalan melalui kabel bawah laut.
Menurut berbagai laporan internasional dan data yang dikutip Reuters, lebih dari 95 persen komunikasi data internasional—bahkan mendekati 99 persen—ditransmisikan lewat lebih dari 500 kabel bawah laut di seluruh dunia.
Masalahnya, banyak kabel tersebut terkonsentrasi di titik geografis sempit seperti Laut Merah dan Selat Hormuz.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai “digital chokepoints” atau titik cekik digital.
Negara-negara Teluk sendiri sangat bergantung pada kabel seperti AAE-1 dan Falcon untuk menopang layanan internet, transaksi keuangan, pusat data, hingga pengembangan kecerdasan buatan.