Israel Bangun Markas IDF di Bekas Kantor PBB Yerusalem yang Dihancurkan
Israel menghancurkan markas badan PBB, UNRWA, di Yerusalem, untuk membangun markas IDF, museum IDF, dan basis perekrutan IDF.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Hamas sendiri merupakan kelompok Palestina yang menguasai Gaza dan dianggap sebagai ancaman bagi entitas pendudukan Israel serta beberapa negara Barat.
Selain itu, Israel juga mengklaim menemukan terowongan dan infrastruktur milik Hamas di bawah beberapa fasilitas UNRWA di Gaza.
Tuduhan tersebut memicu tekanan besar terhadap UNRWA. Beberapa negara donor sempat menghentikan bantuan pendanaan sambil menunggu penyelidikan internal PBB.
Sementara itu, pemerintah Israel mulai mengambil langkah hukum dan politik untuk membatasi aktivitas UNRWA, termasuk di Yerusalem Timur.
Pada Januari 2026, Israel mulai membongkar markas besar UNRWA di Yerusalem Timur.
Pemerintah Israel menyebut tindakan itu sebagai bagian dari penerapan undang-undang nasional terkait dugaan hubungan UNRWA dengan Hamas. Langkah tersebut menuai kritik keras dari PBB dan banyak pihak internasional.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut tindakan Israel terhadap UNRWA sebagai “tidak dapat diterima” dan dinilai melanggar hukum internasional, namun tidak melakukan tindakan apa pun sebagai organisasi global.
Berita Terbaru Serangan Israel di Jalur Gaza
Pada Sabtu (16/5/2026), Hamas mengonfirmasi pembunuhan Izz al-Din al-Haddad, kepala sayap bersenjata kelompok Palestina di Gaza, dalam serangan Israel sehari sebelumnya.
Hamas mengutuk "pembunuhan keji dan pengecut" yang dilakukan Israel terhadap al-Haddad, yang memimpin Brigade Qassam , dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.
Hamas mengatakan al-Haddad tewas bersama istri, putri, dan warga sipil Palestina lainnya pada Jumat malam.
Serangan Israel di seluruh Jalur Gaza menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk tiga orang di Deir el-Balah, dan lainnya di Khan Younis dan Beit Lahiya.
Serangan pada hari Minggu di kota Deir el-Balah di Gaza tengah menargetkan dapur umum dan ketiga korban adalah pekerja dapur umum, menurut laporan Al Jazeera, Minggu (17/5/2026).
Sementara itu, jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 75.200 warga sipil Palestina dan 172.014 lainnya terluka dalam serangan Israel sejak 7 Oktober 2023, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina per 30 Maret 2026.
Israel menyalahkan Hamas atas kematian dan kehancuran di Jalur Gaza, menganggapnya sebagai balasan atas Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan Hamas dan faksi-faksi sekutunya pada 7 Oktober 2023.
Pada 7 Oktober 2023, Hamas dan faksi lainnya menangkap 250 orang setelah membobol pertahanan Israel di perbatasan selatan, menyebut operasinya sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina sejak tahun 1948.
Pada akhir September 2025, Trump mengajukan proposal gencatan senjata untuk Israel dan Hamas yang ditengahi oleh mediator Qatar dan Mesir dengan partisipasi AS dan Turki.
Kedua pihak sepakat dan gencata senjata dimulai pada Jumat, 10 Oktober 2025, namun kesepakatan tersebut rapuh karena kedua pihak saling tuduh melanggar perjanjian.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)