Bertemu Xi Jinping di Beijing, Putin Sebut Rusia dan China Harus Melawan Semua Bentuk Bullying
Xi Jinping dan Vladimir Putin bertemu di Beijing dan menegaskan hubungan strategis China-Rusia semakin erat.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Keduanya berulang kali menyebut satu sama lain sebagai "teman", dan hubungan mereka semakin erat, terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Perang itu mendorong Rusia semakin terisolasi secara internasional serta memaksa Kremlin mencari perdagangan ke arah tenggara di tengah sanksi Barat.
- Apa yang Dibutuhkan Rusia dari China
China menjadi jalur ekonomi vital bagi Rusia karena ekonomi negara tersebut beralih ke kondisi perang.
Perdagangan dua arah antara kedua negara meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode 2020 hingga 2024 dan mencapai 237 miliar dolar AS pada tahun tersebut.
Namun, hubungan ini juga tidak seimbang.
Meskipun China merupakan mitra dagang terbesar Rusia, Rusia hanya menyumbang sekitar empat persen dari total perdagangan internasional China.
Ekonomi China juga jauh lebih besar sehingga China memiliki pengaruh lebih besar dalam negosiasi antara kedua pihak.
Sejak invasi ke Ukraina, Rusia semakin bergantung pada teknologi dan manufaktur China.
Laporan Bloomberg baru-baru ini menyebut Rusia memperoleh lebih dari 90 persen impor teknologi yang dikenai sanksi dari China, termasuk komponen dengan aplikasi militer dan penggunaan ganda yang penting untuk produksi drone dan industri pertahanan lainnya.
China juga menjadi pembeli penting minyak Rusia dan produk energi lainnya.
Dengan sanksi Barat yang membatasi pilihan Rusia, Kremlin memiliki sedikit alternatif lain selain memenuhi skala permintaan China.
Para analis menilai ketidakseimbangan tersebut membuat China sering berada dalam posisi tawar yang lebih kuat, termasuk memperoleh akses minyak dan gas Rusia dengan harga diskon sambil memperluas pengaruhnya terhadap masa depan ekonomi Rusia.
- Apa yang Dibutuhkan China dari Rusia
Meski China tampak lebih superior, kemitraan ini bukan hubungan sepihak.
Rusia menyediakan sesuatu yang semakin berharga di tengah dunia yang bergejolak, yakni akses aman terhadap sumber daya energi melimpah di luar jalur perdagangan maritim yang rentan.
Perang di sekitar Iran dan gangguan di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran China terhadap keamanan energi, mengingat tingginya ketergantungan negara itu pada impor minyak dan gas yang melewati jalur pelayaran sengketa.