Bertemu Xi Jinping di Beijing, Putin Sebut Rusia dan China Harus Melawan Semua Bentuk Bullying
Xi Jinping dan Vladimir Putin bertemu di Beijing dan menegaskan hubungan strategis China-Rusia semakin erat.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Hal tersebut kembali meningkatkan perhatian terhadap proyek pipa "Power of Siberia 2" yang telah lama tertunda dan diperkirakan menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi pekan ini.
Jika selesai dibangun, pipa tersebut akan mengalirkan 50 miliar meter kubik gas Rusia setiap tahun ke China melalui Mongolia, sehingga secara signifikan memperluas aliran energi antara kedua negara.
Namun, hubungan ini tidak hanya soal ekonomi.
China juga memandang Rusia sebagai mitra geopolitik penting.
Kedua negara sama-sama merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan kerap bersekutu secara diplomatik dalam menentang kebijakan yang dipimpin AS.
Meski para analis menilai China berhati-hati agar tidak terikat secara formal melalui aliansi militer yang kaku, kedua negara terus memperkuat kemitraan melalui latihan militer gabungan yang semakin rutin, termasuk latihan angkatan laut "Joint Sea" yang dimulai pada 2012.
Tahun lalu, China dan Rusia juga menggelar latihan angkatan laut baru di Laut Jepang dekat pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Latihan itu berfokus pada penyelamatan kapal selam, peperangan anti-kapal selam, pertahanan udara, pertahanan rudal, dan operasi tempur maritim.
Para analis menilai, latihan tersebut menjadi sinyal keselarasan strategis antara China dan Rusia tanpa harus membentuk aliansi pertahanan formal.
Para ahli juga mengatakan kekuatan kemitraan ini terletak pada fleksibilitasnya.
Meskipun pemerintah Barat sering menggambarkan hubungan tersebut sebagai rapuh dan hanya didorong oleh penentangan bersama terhadap Barat, para analis menilai hubungan China-Rusia kemungkinan akan lebih bertahan lama karena dibangun atas kepentingan ekonomi dan strategis bersama, bukan semata-mata ideologi.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)