Kuwait Siaga Perang! Mendadak Aktifkan Pertahanan Udara Saat Konflik AS-Iran Meledak
Kuwait siaga perang! Sistem pertahanan udara diaktifkan usai ancaman rudal dan drone muncul saat konflik AS-Iran kembali memanas.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Eskalasi terbaru ini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling penting dalam perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.
Ketika konflik meningkat di sekitar Selat Hormuz, pasar global langsung bereaksi keras karena khawatir distribusi energi dunia akan terganggu.
Dampaknya langsung terlihat pada lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan naik lebih dari 3 persen setelah muncul kabar serangan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat.
Investor global mulai khawatir bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional besar yang mengancam stabilitas ekonomi internasional.
AS Masih Dorong Jalur Diplomasi
Di tengah meningkatnya ancaman perang, pemerintahan Presiden Donald Trump masih menyatakan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington masih memberikan kesempatan bagi perundingan damai dengan Iran untuk berhasil.
Dalam rapat kabinet Presiden Trump, Rubio menyebut pembicaraan dengan Iran menunjukkan sejumlah perkembangan positif meski situasi di lapangan terus memanas.
Namun Rubio juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki pilihan lain jika diplomasi gagal, termasuk kemungkinan operasi militer lanjutan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Iran dan Amerika Serikat kini berada di titik paling sensitif dalam beberapa bulan terakhir.
Dunia internasional kini menunggu apakah kedua negara akan kembali ke meja perundingan atau justru membawa kawasan Timur Tengah menuju konflik yang lebih luas dan berbahaya.
(Tribunnews.com / Namira)