Pelan tapi Pasti, Trump Yakin Iran akan Kibarkan Bendera Putih dan Tunduk pada AS
Presiden AS Trump optimis akan mencapai kesepakatan, namun sebut tak buru-buru. AS akan mundur jika Selat Hormuz dibuka dan masalah nuklir selesai.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Salma Fenty
Menurut pejabat militer AS, kapal tersebut akhirnya ditembak rudal yang mengenai ruang mesin sehingga tidak dapat melanjutkan pelayaran dan hanyut di Teluk Oman.
Dengan insiden ini, jumlah kapal yang dihentikan secara paksa sejak blokade dimulai pada 17 April mencapai enam kapal, sementara lebih dari 100 kapal komersial lainnya telah dialihkan dari rute semula.
Menanggapi langkah tersebut, markas militer Khatam al-Anbiya menegaskan seluruh kapal dan tanker yang melintasi kawasan wajib mengikuti rute yang ditetapkan Teheran serta memperoleh izin dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Iran juga memperingatkan bahwa kapal yang melanggar aturan di Selat Hormuz dapat menghadapi "bahaya serius", dan menegaskan setiap upaya pasukan asing untuk mengganggu pengelolaan selat tersebut akan dianggap sebagai sasaran sah bagi militer Iran.
Di tengah memanasnya situasi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan bahwa Selat Hormuz memiliki status khusus karena berada di wilayah perairan Iran dan Oman, sehingga pengelolaannya menjadi isu yang sangat sensitif bagi Teheran, seperti diberitakan Al Jazeera.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran menyusul gagalnya perundingan nuklir di Jenewa. AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan program nuklirnya hanya digunakan untuk kepentingan energi dan penelitian sipil.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan awal dan posisinya disebut digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta memperketat pengawasan di Selat Hormuz, yang berdampak pada distribusi energi global.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan. Meski demikian, proses perdamaian masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait tuntutan AS terhadap program pengayaan uranium Iran dan pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Di tengah upaya diplomasi yang terus berlangsung, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi berkunjung ke Teheran untuk melanjutkan peran mediasi. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa situasi masih sangat rapuh dan mengancam akan mengambil tindakan militer baru jika perundingan tidak menunjukkan kemajuan yang memadai.
Selain Pakistan, Oman dan Qatar turut berupaya menjembatani dialog antara Washington dan Teheran. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan sudah semakin dekat, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengatakan sebagian besar isu utama dalam negosiasi telah menemukan titik temu.
Namun, beberapa perbedaan penting masih belum terselesaikan, dan kedua pihak tampaknya berusaha menghindari kesan keluar dari konflik sebagai pihak yang lebih banyak mengalami kerugian.
Pada hari Sabtu, Trump mengklaim bahwa AS telah melemahkan Iran dan yakin segera mencapai kesepakatan, sementara Iran membantah klaim tersebut.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)