Raksasa Riset AI Jerman Angkat Kaki dari Israel, Dampak Perang Guncang Industri Teknologi
Bosch resmi tutup pusat riset AI di Israel. Dampak perang dan pergeseran industri teknologi global kini mulai mengguncang sektor startup negara itu.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Perusahaan teknologi asal Jerman, Bosch, resmi menutup 2 pusat riset AI di Tel Aviv dan Haifa yang telah beroperasi sejak 2018.
- Kondisi keamanan akibat perang disebut mengganggu stabilitas operasional, analis mencatat investasi sektor teknologi Israel turun ke level terendah sejak 2018 akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
- Perusahaan nantinya akan memusatkan investasi ke wilayah dengan ekosistem teknologi dan peluang bisnis AI yang lebih besar seperti China, Amerika Serikat, dan Eropa
TRIBUNNEWS.COM - Perusahaan teknologi dan teknik asal Jerman, Bosch, resmi menutup dua kantor penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Israel.
Dua pusat penelitian yang berada di Tel Aviv dan Haifa tersebut diketahui berfokus pada pengembangan AI, sensor, dan sistem otomatisasi. Namun mulai akhir Juni 2026 operasional dua kantor pusat itu dijadwalkan selesai.
Mengutip dari Anadolu, Bosch pertama kali membuka pusat penelitian AI di Israel pada 2018 melalui Bosch Center for Artificial Intelligence (BCAI).
Saat itu, Israel dianggap sebagai salah satu pusat inovasi teknologi paling maju di dunia, terutama dalam bidang keamanan siber, AI, sensor, dan otomatisasi industri.
Namun setelah hampir delapan tahun berjalan, perusahaan akhirnya memutuskan menghentikan seluruh aktivitas riset di negara tersebut.
Menurut laporan harian bisnis Jerman Handelsblatt, keputusan ini menjadi penutupan pertama fasilitas Bosch di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir dan juga disebut sebagai penarikan pertama perusahaan besar Jerman dari ekosistem penelitian teknologi Israel sejak perang berkepanjangan pecah pada 2023.
Meski demikian, Bosch tidak sepenuhnya meninggalkan pasar Israel. Perusahaan tetap mempertahankan aktivitas komersial melalui beberapa anak usahanya seperti BSH, Elmo Motion Control, dan Bosch Ventures.
Perang Israel Disebut Ganggu Stabilitas Operasional
Pejabat komunikasi Bosch, Matthias Jekosch, mengungkapkan bahwa keputusan penutupan pusat riset AI di Israel sebenarnya telah ditetapkan sejak Desember tahun lalu.
Seluruh karyawan di dua kantor tersebut juga disebut sudah menerima pemberitahuan resmi sejak Januari sebagai bagian dari proses penghentian operasional secara bertahap.
Kondisi keamanan di Israel jadi salah satu penyebab sulitnya perusahaan asing termasuk Bosch untuk mempertahankan kegiatan riset jangka panjang.
Kepala kantor Asosiasi Helmholtz Jerman di Tel Aviv, Andrea Frahm, mengatakan banyak ahli teknologi asal Jerman bersama keluarganya kini enggan pindah ke Israel sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: PBB Gelar Sidang Darurat setelah Israel Perluas Serangan ke Lebanon
Menurutnya, situasi perang yang berkepanjangan telah menciptakan ketidakpastian operasional dan menurunkan rasa aman bagi tenaga kerja internasional.
Frahm juga menilai perusahaan-perusahaan Jerman kemungkinan akan menunda pembukaan kantor baru di Israel sampai terdapat kepastian keamanan dan stabilitas jangka panjang.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi sektor teknologi Israel yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat startup terbesar dunia.
Selain itu kombinasi perlambatan ekonomi global dan konflik berkepanjangan jadi salah satu tekanan besar sektor teknologi Israel