Trump Tegur Netanyahu: Saya Bosnya, Bukan Anda, Kesepakatan Iran Ditentukan AS
Presiden AS Trump mengatakan AS yang menentukan akhir kesepakatan dengan Iran, bukan Netanyahu, menegaskan Israel harus tunduk pada keputusan AS.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
“Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan akhir dengan Iran. Ini akan menjadi kesepakatan yang baik. Saya tidak ingin kesepakatan ini gagal karena apa yang terjadi sekarang," tambahnya.
Trump mengatakan ia menelepon Netanyahu dan memintanya untuk tidak membalas serangan Iran.
“Saya akan menelepon Netanyahu sekarang juga dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas,” kata Trump, seraya menambahkan, “Masing-masing dari mereka sudah bersenang-senang. Israel sudah melakukan serangannya dan Iran juga sudah melakukan serangannya. Kita tidak butuh serangan lain.”
“Saya tidak ingin melihat serangan tambahan malam ini,” tambah Trump.
Agresi bersama yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu berhenti setelah gencatan senjata yang disepakati AS dan Iran pada 8 April.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis di Iran. Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.
Amerika Serikat dan Israel menuding Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata digunakan untuk kepentingan energi serta penelitian sipil.
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada masa awal konflik. Sejumlah laporan menyebut posisi tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai respons atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Iran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Setelah berlangsung hampir 40 hari, pertempuran akhirnya mereda dengan tercapainya gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut terwujud berkat mediasi yang dilakukan Pakistan.
Meski demikian, sejumlah isu krusial masih belum menemukan titik temu. Program pengayaan uranium Iran serta pengaturan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi pembahasan utama dalam proses negosiasi.
Untuk menjaga momentum perdamaian, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi kembali mengunjungi Teheran guna melanjutkan upaya mediasi. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama, namun opsi militer masih terbuka apabila perundingan tidak menunjukkan kemajuan.
Selain Pakistan, Oman dan Qatar juga turut berperan dalam menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.
Hingga kini, pembicaraan antara kedua negara masih terus berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan akhir. Beberapa isu yang masih diperdebatkan mencakup program nuklir Iran, cadangan uranium yang telah diperkaya, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pencabutan sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berjalan. Dalam konferensi pers pada hari ini, ia menyebut salah satu tujuan kunjungan Mohsin Naqvi ke Teheran dua hari lalu adalah untuk membantu melanjutkan proses dialog antara kedua negara.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)