Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Panik Balon Mata-Mata China, Militer AS Tembak Balon Pramuka Pakai Rudal Rp 8,1 M

Objek terbang yang ditembak jatuh militer Amerika Serikat pada Februari 2023 ternyata diduga merupakan balon penelitian milik kelompok Pramuka

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Panik Balon Mata-Mata China, Militer AS Tembak Balon Pramuka Pakai Rudal Rp 8,1 M
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
LANDING DI KAPAL - Tangkap layar Khaberni, Kamis (18/2/2026) yang menunjukkan proses pendaratan jet tempur AS di atas kapal induk mereka. 

Ia mengaku harus menjelaskan insiden tersebut kepada anggota Kongres AS, yang mempertanyakan keputusan penggunaan rudal mahal terhadap objek yang ternyata tidak berbahaya.

Berawal dari Kasus Balon China

Latar belakang insiden ini tidak lepas dari ketegangan antara Washington dan Beijing pada awal 2023.

Saat itu, sebuah balon berukuran besar milik China terbang melintasi wilayah Amerika Serikat sebelum akhirnya ditembak jatuh oleh jet tempur F-22 Raptor di lepas pantai Carolina Selatan.

Pemerintah AS menuduh balon tersebut digunakan untuk kegiatan pengintaian atau spionase.

Namun China membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa balon itu merupakan wahana sipil yang digunakan untuk keperluan penelitian cuaca.

Menteri Luar Negeri China saat itu, Wang Yi, bahkan menyebut tindakan AS menembak balon tersebut sebagai langkah yang berlebihan dan bertentangan dengan norma internasional.

Balon Sipil Lain Juga Diduga Jadi Korban

Laporan media AS menyebut insiden Danau Huron bukan satu-satunya kasus salah identifikasi setelah kontroversi balon China.

Rekomendasi Untuk Anda

Kirkpatrick mengungkap bahwa pada periode yang sama, seorang pilot jet tempur AS pernah melaporkan melihat objek yang dianggap memiliki kemampuan menyerupai pesawat siluman.

Setelah ditembak jatuh, objek tersebut ternyata hanya sebuah balon yang membawa tulisan "Happy Birthday" dan dijual oleh jaringan ritel Walmart.

Kelompok hobi penerbangan Northern Illinois Bottlecap Balloon Brigade juga melaporkan kehilangan balon penelitian sederhana senilai sekitar 12 dolar AS atau sekitar Rp194 ribu pada hari yang sama ketika militer AS menembak sebuah objek tak dikenal menggunakan rudal bernilai lebih dari Rp6,4 miliar.

Radar Diubah, Balon Sipil Ikut Terdeteksi

Setelah insiden balon China, militer AS mengubah pengaturan radar agar mampu mendeteksi objek yang bergerak lambat dan berukuran kecil yang sebelumnya sering diabaikan sistem.

Perubahan itu memang meningkatkan kemampuan deteksi, tetapi juga membuat berbagai balon sipil dan objek nonmiliter lainnya ikut teridentifikasi sebagai potensi ancaman.

Pada September 2023, CNN melaporkan bahwa berdasarkan penilaian intelijen AS, China kemudian mengurangi program pengawasan menggunakan balon setelah ketegangan diplomatik dengan Washington meningkat akibat kontroversi tersebut.

Kasus ini hingga kini masih menjadi contoh bagaimana suasana keamanan yang tegang dapat memicu respons militer yang agresif terhadap objek yang belakangan diketahui tidak menimbulkan ancaman nyata.


 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas