Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Gencatan Senjata Rapuh Iran-Israel, Timur Tengah di Persimpangan Perang Besar

AS mengancam kalau Israel akan berperang sendirian melawan Iran apabila konflik berubah menjadi besar yang membakar kawasan Timur Tengah

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Gencatan Senjata Rapuh Iran-Israel, Timur Tengah di Persimpangan Perang Besar
AFP/Nur Photo
Bendera Iran dan Israel. 

Trump juga mengklaim berhasil membujuk Israel untuk mengurangi intensitas operasi militernya.

Langkah tersebut sejalan dengan kepentingan Washington untuk menghindari konflik regional yang dapat mengancam pangkalan militer Amerika, jalur perdagangan internasional, serta stabilitas pasar energi global.

Bagi AS, perang terbuka antara Iran dan Israel berpotensi menyeret banyak negara di Timur Tengah dan memperburuk kondisi ekonomi dunia.

Lebanon Masih Menjadi Titik Panas

Walaupun Iran dan Israel mengumumkan penghentian serangan langsung, operasi militer Israel di Lebanon dilaporkan masih berlangsung.

Sejumlah laporan menyebutkan serangan udara dan artileri terus menghantam wilayah selatan Lebanon, termasuk kawasan Nabatieh dan sekitar Kota Tyre.

Militer Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga sipil di beberapa daerah yang disebut memiliki keterkaitan dengan Hezbollah.

Rekomendasi Untuk Anda

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan agar perang segera diakhiri dan meminta Israel menunjukkan komitmen untuk mencapai perdamaian.

Menurutnya, penggunaan kekuatan militer harus digantikan oleh pendekatan diplomasi.

Konflik di Lebanon memiliki arti penting karena Hezbollah merupakan sekutu utama Iran di kawasan. Serangan terhadap kelompok tersebut dipandang Teheran sebagai ancaman langsung terhadap jaringan strategisnya di Timur Tengah.

Dampak terhadap Penerbangan dan Ekonomi Global

Eskalasi konflik sempat menyebabkan Iran menutup wilayah udaranya dan menghentikan seluruh penerbangan.

Setelah situasi relatif mereda, otoritas Iran kembali membuka ruang udara dan mengizinkan aktivitas penerbangan berjalan normal.

Namun, ketidakpastian keamanan di kawasan telah memukul industri penerbangan internasional.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memangkas proyeksi keuntungan maskapai global untuk 2026 akibat lonjakan harga bahan bakar dan terganggunya jalur penerbangan utama di Timur Tengah.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas