Hacker Iran Bikin Geger, Ancam Serang Piala Dunia 2026 usai Klaim Retas Drone FBI
Hacker Iran bikin geger! Klaim retas drone FBI dan ancam serang Piala Dunia 2026. AS kini perketat keamanan siber dan zona anti-drone.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari sistem keamanan berlapis guna mencegah ancaman udara maupun potensi serangan siber selama kompetisi berlangsung.
Departemen Kehakiman AS juga sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan meningkatnya serangan siber dari kelompok yang terkait Iran setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Ancaman Siber Jadi Tantangan Baru Event Global
Ancaman yang dilontarkan kelompok hacker Handala ini bukan kali pertama menjadi perhatian aparat keamanan Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada Maret lalu, kelompok yang dikaitkan dengan Iran tersebut juga mengklaim berhasil meretas akun email Direktur FBI, Kash Patel.
Dalam aksinya saat itu, Handala disebut menyebarkan sejumlah foto pribadi dan dokumen lain ke internet. Kasus tersebut sempat menghebohkan publik Amerika Serikat dan memicu investigasi lebih lanjut terkait aktivitas siber kelompok tersebut.
Sejak saat itu, pemerintah AS terus meningkatkan upaya pencarian terhadap anggota jaringan Handala.
Bahkan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi untuk membantu mengidentifikasi maupun menangkap anggota kelompok hacker tersebut.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa ancaman terhadap event internasional kini tidak lagi hanya berasal dari serangan fisik, tetapi juga dari perang siber dan perkembangan teknologi digital modern.
Penggunaan drone, sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan atau AI, hingga ancaman peretasan kini menjadi tantangan baru dalam sistem keamanan global.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius menjelang berlangsungnya FIFA World Cup di Amerika Serikat.
Aparat keamanan internasional kini menghadapi tekanan besar untuk memastikan turnamen olahraga terbesar dunia itu dapat berlangsung aman di tengah meningkatnya ancaman serangan siber, sabotase digital, dan ketegangan geopolitik global yang terus memanas.
(Tribunnews.com / Namira)