Iran dan AS Saling Klaim Isi Deal Selat Hormuz Versi Masing-masing
Meski dikabarkan segera berdamai , baik AS dan Iran saling "membocorkan" isi kesepakatan mereka dengan versi masing-masing yang tuai aksi saling kecam
Penulis:
Bobby W
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
"Pedang (Iran) akan tetap terhunus di atas Selat Hormuz tanpa batas waktu." ungkap Araghci memberikan peringatan keras bila kesepakatan terbaru ini diingkari.
Poin penting lain dari kesepakatan ini, menurut laporan kantor berita Fars, adalah keharusan bagi AS dan Iran untuk saling menghormati kedaulatan masing-masing dan tidak saling ikut campur urusan dalam negeri.
Untuk detail terkait program nuklir Iran maupun pencabutan sanksi secara penuh, Araghchi menyebut bahwa hal itu baru akan difinalisasi pada negosiasi tahap berikutnya.
Bocoran lain juga disampaikan oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaie, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Rezaie mengklaim adanya konsesi dana dari pihak Amerika Serikat.
Kabar tersebut dibagikan oleh Young Journalists Club (YJC) yang terafiliasi dengan TV pemerintah Iran.
Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam itu mengatakan bahwa sejumlah aset Iran yang sempat dibekukan akan kembali dapat diakses melalui kesepakatan tersebut.
"Trump telah setuju untuk melepaskan $24 miliar (sekitar Rp 428,4 triliun) dari aset Iran yang dibekukan, tetapi tidak bersedia mengumumkannya secara publik." terang Rezaie.
Trump Benarkan Klaim Araghchi
Baca juga: Klaim Trump Soal Kepastian Damai Ditepis Iran, Ketegangan Militer Meningkat di Hormuz
Sejumlah pernyataan yang diungkapkan pihak Iran tersebut ternyata juga diamini oleh AS.
Hal ini terlihat dari unggahan Presiden AS Donald Trump yang membagikan ulang unggahan Araghchi di jejaring sosial miliknya, Truth Social.
Kepada media Axios, Trump meyakini bahwa penandatanganan kesepakatan dengan Iran dapat dilakukan paling cepat pada akhir pekan ini atau hari Senin mendatang.
Walau begitu, Trump juga secara terang-terangan mengecam dan menyebut klaim sepihak Teheran mengenai isi kesepakatan tersebut sebagai informasi palsu.
Para pejabat pemerintahan Trump selama ini berpegang teguh bahwa penghancuran program nuklir Iran adalah tujuan utama peperangan ini.
Sementara itu, senator Republik Lindsey Graham menanggapi syarat-syarat yang diberitakan oleh media Iran sebagai sesuatu yang "mengerikan".
Lindsey memperingatkan bahwa "aturan garis merah" yang telah diterapkan oleh Trump terkait pengayaan nuklir tidak boleh dilanggar, sembari menyambut baik langkah Trump yang membantah klaim-klaim dari pihak Teheran.