Kursi Roda Ini Bisa Digerakkan dengan Pikiran, Begini Cara Kerjanya
Kursi roda yang belum diberi nama itu benar-benar bisa digerakkan hanya dengan pikiran.
Editor:
Robertus Rimawan
"Belum ada alat yang benar-benar akurat," ungkap peneliti Balai Pengembangan Instrumentasi yang memimpin proyek kursi roda EEG, Arjon Turnip.
Menurut Arjon, belum ada satu pun perangkat EEG di dunia yang akurasinya mencapai 100 persen.
Tak ada pula yang hanya menggunakan pikiran saja. Pasti ada bantuan penglihatan untuk memancing sinyal otak.
Agung menuturkan, kunci untuk mengupayakan akurasi pada perangkat EEG adalah perangkat lunaknya.
"Harus bisa mengekstrak sinyal dengan baik," katanya.
Sinyal otak tak seperti sinyal jantung yang rata-rata detaknya sudah diketahui.
Sinyal otak cenderung random sehingga harus diekstrak dan diidentifikasi.
Identifikasi salah satunya berdasarkan frekuensi. Misalnya, untuk gerakan maju, frekuensinya 9 hertz.
Maka perangkat lunak harus bisa mengidentifikasi sinyal pada frekuensi itu.
Identifikasi itu punya tantangan sebab banyak noise dalam sinyal otak.
Jika selama fokus bergerak pengguna berkedip saja, frekuensinya sudah akan berbeda sehingga menyulitkan gerakan.
Arjon menyebut, "kursi roda EEG ini adalah yang paling canggih di Indonesia."
Kini, pengembangannya masuk tahun keempat.
Program pada tahun ini adalah mengujicoba secara terbatas fungsi kursi roda sambil terus menyempurnakan.
"Kita sudah bekerjasama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin dan ITB (Institut Teknologi Bandung) untuk tahap uji coba ini," Kata Arjon.
Kemungkinan, produk ini bisa selesai dikembangkan dalam 2-3 tahun ke depan.
Menurut Arjon, perlu sinergi dalam pengembangan teknologi seperti kursi roda EEG. BUkan hanya lembaga penelitian dan universitas yang perlu terlibat, industri juga.(*)
Baca tanpa iklan