Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Waspada Demam Berdarah

Sudah Tepatkah Dosis Fogging? Kalau Tak Pas, Nyamuknya Cuma Pingsan

Fogging atau pengasapan merupakan cara yang selalu digunakan untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Sudah Tepatkah Dosis Fogging? Kalau Tak Pas, Nyamuknya Cuma Pingsan
TRIBUNNEWS,COM/HERUDIN
Prajurit TNI AD melakukan fogging (pengasapan) untuk menekan siklus hidup nyamuk dan seranggga lainnya di Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan, Jumat (21/2/2014). Aksi fogging kerja sama antara TNI AD, Agung Podomoro Land dan Pemprov DKI Jakarta ini dilakukan serentak di empat wilayah DKI Jakarta guna mencegah penyakit pasca banjir terutama demam berdarah (DBD). TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM - Fogging atau pengasapan merupakan cara yang selalu digunakan untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Namun, banyak yang perlu diperhatikan dalam melakukan fogging agar efektif membunuh nyamuk dan sarangnya.

Salah satu yang terpenting adalah memastikan dosis insektisida yang digunakan untuk fogging.

“Dosisnya sudah benar belum? Kalau enggak, nyamuknya pingsan doang, enggak mati,” ujar Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) DR. Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSc seperti dikutip Tribunnews.com dari Kompas.com.

Dalam melakukan pengasaan, insektisida akan dicampur dengan solar kemudian mengeluarkan asap di mesin fogging.

Dosis insektisida sebenarnya sudah tertera dalam kemasannya. Misalnya, tertulis 5/15 atau lima insektisida berbanding 15 liter solar. Maka, dosis yang harus digunakan seharusnya sesuai dengan takaran tersebut.

Menurut Budi, salah satu tanda penggunaan dosis "obat" fogging yang tidak tepat adalah lantai rumah menjadi licin pasca pengasapan.

“Kalau dosisnya tepat maka yang keluar asap. Kalau dosis enggak tepat, yang keluar, ya minyak. Lantai licin, kalau seperti sudah itu jelas dosisnya enggak tepat,” terang Budi.

Kesalahan inilah yang menjadi salah satu penyebab kasus DBD tidak mengalami penurunan setelah fogging dilakukan dan justru ditemukan pasien baru.

Menurut Budi, petugas yang melakukan fogging pun mesti terlatih meski fogging menggunakan mesin dengan teknologi sederhana. Fogging dilakukan di kawasan pemukiman hingga sekolah-sekolah ketika ditemukan pasien DBD di daerah tersebut.

Fogging tak bisa dilakukan asal-asalan, petugas harus memperhatikan radius penyemprotan, mengecek mesin fogging, hingga waktu dilakukannya fogging.

Kegiatan fogging harus direncanakan. Jangan lupa untuk melakukan sosialisasi dengan baik kepada masyarakat agar semua pemilik rumah bersiap dan bersedia saat dilakukan fogging.

Ikuti kami di
Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas