Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Aborsi dan Penggunaan AI dalam Dunia Medis Jadi Sorotan Pakar Bioetika

Simposium internasional ini dihadiri oleh sejumlah pakar bioetika dari dalam maupun luar negeri. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Aborsi dan Penggunaan AI dalam Dunia Medis Jadi Sorotan Pakar Bioetika
Ist
One Day Symposium on Christian Bioethics" yang diselenggarakan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu mengenai aborsi, euthanasia, dan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi pembahasan dalam One Day Symposium on Christian Bioethics" yang diselenggarakan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA). 

Simposium internasional ini dihadiri oleh sejumlah pakar bioetika dari dalam maupun luar negeri. 

Wakil Rektor III UKRIDA, dr. Theresia Citraningtyas, MWH, Ph.D., Sp.KJ, menekankan urgensi kajian bioetika di era kemajuan teknologi medis.

"Bioetika Kristen merupakan panggilan dan tanggung jawab kita untuk mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap aspek perawatan kesehatan, terutama dalam isu-isu sensitif seperti perawatan the end of life," ujar Theresia melalui keterangan tertulis, Jumat (22/11/2024).

Pakar bioetika Denni Boy Saragih, S.K.M., M.Div., M.Th., Ph.D., menyoroti dua isu krusial yakni aborsi dan euthanasia. 

Dua ini, menurutnya, memerlukan pendekatan komprehensif dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Kasus-kasus aborsi darurat membutuhkan kajian mendalam dengan tetap menghormati hak hidup dan memberikan dukungan optimal kepada keluarga terdampak," ucapnya. 

Dr. Jean Li-Lim, Primary Care Physician, Ministry of Health Malaysia, ICMDA Area Representative in Southeast Asia, memaparkan isu krusial tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam praktik kedokteran. 

"Penggunaan AI dalam medis memerlukan pengawasan yang lebih ketat karena keputusan yang diambil oleh AI mungkin tidak selalu sejalan dengan etika atau nilai-nilai Kristen," tegasnya. 

Dirinya juga menjelaskan perkembangan generative AI dalam dunia kedokteran.  

Menurutnya, AI hadir bukan untuk menggantikan dokter, tapi untuk membantu mereka. 

"Tujuan utamanya adalah meningkatkan pengalaman dan hasil perawatan pasien," katanya. 

Ia menyampaikan Indonesia dan Malaysia telah menetapkan pedoman etika yang sejalan dalam penggunaan AI, yang mencakup perlindungan data pribadi, akuntabilitas, dan keamanan. 

Menurut Dr. Jean, secara khusus pedoman di Indonesia menekankan konsep "manusia dalam sistem" (human in the loop), yang mengharuskan keterlibatan manusia dalam setiap penerapan sistem AI.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas