Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Cuaca Panas dan Terik saat Siang Hari Berpotensi Heat Stroke, Berikut Gejala dan Pencegahannya

Waspada potensi heat stroke ketika cuaca panas dan terik saat siang hari, simak gejala dan pencegahannya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Siti Nurjannah Wulandari
zoom-in Cuaca Panas dan Terik saat Siang Hari Berpotensi Heat Stroke, Berikut Gejala dan Pencegahannya
medicalnewstoday.com
ILUSTRASI HEAT STROKE - Waspada potensi heat stroke ketika cuaca panas dan terik saat siang hari, simak gejala dan pencegahannya. 

3. Meniupkan udara segar.

4. Melepas baju ketat yang dikenakan penderita.

5. Membalut tubuh penderita secara longgar menggunakan kain basah.

Segera cari pertolongan medis untuk memberikan perawatan lebih lanjut.

Penyebab Cuaca Panas dan Terik saat Siang Hari

Diketahui suhu udara panas dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan lainnya.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, menjelaskan mengapa suhu udara saat siang hari terasa panas dan terik.

Perkiraan suhu udara panas di wilayah Indonesia dalam seminggu terakhir.
Perkiraan suhu udara panas di wilayah Indonesia dalam seminggu terakhir. (Kompas.com/ BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJAR)
Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengungkapkan suhu udara panas erat kaitannya dengan fenomena gerak semu matahari.

"Seperti yang kita ketahui pada bulan September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember."

"Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan," terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews, Senin.

Lebih lanjut, Miming menjelaskan kondisi tersebut menyebabkan radiasi matahari di wilayah tersebut menjadi lebih banyak.

Sehingga menyebabkan suhu udara saat siang hari terasa panas dan terik.

Tak hanya itu, kondisi atmosfer di wilayah selatan Indonesia relatif kering.

Sehingga menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas matahari.

"Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara," ujar Miming.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas