Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ada 9 Hambatan yang Harus Diantisipasi dalam Program Makanan Bergizi Gratis

Pengamat kesehatan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengungkapkan ada beberapa hambatan dalam program makan bergizi gratis.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ada 9 Hambatan yang Harus Diantisipasi dalam Program Makanan Bergizi Gratis
dok pribadi
Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman. 

Porsi makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan energi dan nutrisi anak pada berbagai jenjang usia (TK, SD, SMP) dapat menyebabkan kurangnya asupan gizi atau bahkan gizi berlebih pada beberapa anak.

Sehingga, porsi makanan harus disesuaikan dengan usia dan aktivitas anak. 

Ahli gizi dapat membantu menyusun takaran yang tepat untuk setiap kelompok umur.

Kelima, kurangnya edukasi gizi bagi anak dan orang tua.

Baca juga: Wamen Didit Herdiawan Ingin Produk Perikanan Masuk ke Program Makan Bergizi Gratis

Jika anak dan orang tua tidak memahami pentingnya makanan bergizi, anak mungkin enggan konsumsi makanan sehat yang disediakan.

Program ini, kata Dicky harus diiringi dengan edukasi gizi baik di sekolah maupun di rumah, melibatkan guru, orang tua, dan tenaga kesehatan.

Misalnya, kampanye atau pelatihan gizi untuk orang tua dapat membantu memastikan keberlanjutan asupan makanan bergizi di luar sekolah.

Rekomendasi Untuk Anda

Keenam, keterbatasan anggaran. Pembiayaan yang tidak mencukupi bisa membatasi jumlah anak yang mendapatkan makanan atau menurunkan kualitas makanan yang disediakan.

"Program ini harus memiliki anggaran yang jelas dan berkelanjutan. Kerjasama dengan pihak swasta, LSM, atau donor internasional dapat membantu menutupi kekurangan anggaran," saran Dicky.

Ketujuh, penerimaan sosial dan budaya.

Tidak semua keluarga atau komunitas mungkin menerima jenis makanan tertentu karena alasan budaya atau agama.

Misalnya, makanan yang tidak sesuai dengan preferensi atau keyakinan lokal bisa ditolak oleh anak-anak dan keluarganya.

Penyusunan menu harus mempertimbangkan keanekaragaman budaya dan agama di masing-masing daerah. 

Konsultasi dengan masyarakat setempat dapat membantu menciptakan menu yang dapat diterima oleh semua pihak.

Baca juga: Harapan Warga usai Prabowo-Gibran Dilantik: Realisasikan Makan Bergizi Gratis, Sejahterakan Petani

Kedelapan,  monitoring dan evaluasi yang tidak memadai.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas