Trik Sehat saat Panas Ekstrem, Perbanyak Minum, Jangan Tunggu Haus
Fenomena panas ekstrem terjadi sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu trik agar tetap sehat adalah jangan lupa minum.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Ia menambahkan, jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak bahkan kematian.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk mengenali gejala awal seperti lemas, pusing, mual, berkeringat berlebihan, dan denyut jantung cepat.
Selain itu, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis juga berisiko lebih tinggi terhadap dampak panas ekstrem.
“Anak-anak, lansia, ibu hamil, juga orang dengan penyakit kronis seperti hipertensi, jantung, atau diabetes ini berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat stres panas,” ungkapnya.
Baca juga: 8 Tips Ampuh Hadapi Cuaca Panas Ekstrem dan Tetap Sehat di Musim Pancaroba
Dicky mengingatkan, fenomena panas ekstrem harus menjadi peringatan nyata tentang kondisi lingkungan perkotaan yang semakin tidak sehat.
“Sekali lagi, fenomena panas ekstrem ini adalah peringatan nyata dari dampak perubahan iklim dan kondisi lingkungan perkotaan kita yang makin nggak sehat,” tegasnya.
Saran Ahli: Perbanyak Area Hijau di Kota
Selain langkah individu, ia juga menyoroti perlunya perlindungan lingkungan yang lebih luas.
Salah satu langkah penting adalah memperbanyak area hijau di wilayah perkotaan.
“Perbanyak area hijau, jadi hutan-kota, pepohonan di sekitar rumah. Ini sangat penting karena vegetasi membantu menurunkan suhu lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum ramah lingkungan seperti bus listrik.
“Karena sekali lagi kendaraan pribadi itu memicu emisi panas dan polutan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dicky menilai pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan sistem peringatan dini terhadap gelombang panas dan meningkatkan literasi publik terkait penanganan heatstroke.
“Pemerintah dan dinas kesehatan perlu melakukan semacam early warning system atau sistem peringatan dini terhadap gelombang panas. Juga literasi publik tentang tanda-tanda heatstroke dan penanganan awal,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa selain adaptasi individu, langkah mitigasi jangka panjang seperti penghijauan, tata kota ramah iklim, dan pengendalian polusi udara menjadi kunci menghadapi ancaman panas ekstrem di masa depan.
Baca tanpa iklan