Pengobatan Berbasis Genetik, Harapan Baru Penderita Kanker Paru, Ini Penjelasan Pulmonolog
Pendekatan ini dikenal sebagai pengobatan yang dipersonalisasi, karena menyesuaikan terapi dengan kondisi unik setiap individu.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Deteksi dini molekuler tingkatkan kesembuhan kanker
- Imunoterapi harapan baru lawan sel kanker
- Pengobatan kini dipersonalisasi berbasis profil genetik
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Harapan baru bagi pasien kanker paru semakin terbuka berkat kemajuan teknologi diagnostik dan terapi modern.
Para dokter dan ahli dari dalam maupun luar negeri sepakat bahwa deteksi dini dan pengobatan berbasis bukti klinis merupakan kunci utama untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien kanker paru di Indonesia.
Dokter spesialis paru dan kedokteran respirasi, Dr. dr. Andika Chandra Putra, Sp.P(K) menjelaskan bahwa pemeriksaan molekuler kini menjadi langkah penting untuk mendeteksi kanker paru sejak dini.
“Lewat diagnostik molekuler, kita bisa mengetahui perubahan genetik pada sel kanker. Dengan begitu, terapi yang diberikan bisa disesuaikan dengan kondisi setiap pasien,” ungkap dr. Andika saat jadi narasumber Lung Cancer 360 Workshop & Symposium 2025 yang digagas Siloam Hospitals Lippo Village di Tangerang Banten belum lama ini.
Saat sesi bertajuk Advanced Molecular Diagnostics in Lung Cancer, Andika menjelaskan bahwa metode ini membantu dokter menentukan jenis obat yang paling efektif berdasarkan profil genetik pasien.
Baca juga: Terlalu Berlebihan Konsumsi Makanan Ultra Olahan Picu Kanker Paru-paru
Pendekatan ini dikenal sebagai pengobatan yang dipersonalisasi (personalized medicine), karena menyesuaikan terapi dengan kondisi unik setiap individu.
Sementara, Dr. Toh Chee Keong, ahli onkologi medis dari Singapura menyoroti perkembangan imunoterapi, yaitu metode pengobatan yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker.
Dalam paparannya bertajuk “From Trials to Treatment: The Expanding Role of Atezolizumab in Lung Cancer”, ia menegaskan bahwa imunoterapi kini menjadi salah satu harapan terbesar bagi pasien kanker paru berkat bukti klinis yang kuat dan hasil yang signifikan.
“Pendekatan imunoterapi bukan hanya menekan pertumbuhan kanker, tetapi juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk mengenali dan melawan kanker secara alami,” katanya.
Selain Andika Chandra dan Toh Chee Keong, para pakar nasional juga membahas kemajuan terapi kanker paru jenis non-small cell lung cancer (NSCLC) — tipe yang paling sering ditemukan.
Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P dan Prof. Dr. dr. Elisna Syahruddin, Sp.P(K) memaparkan efektivitas kombinasi obat Afatinib dan Pemetrexed yang terbukti dapat memperpanjang harapan hidup pasien.
Selain itu, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) dan dr. M. Alfin Hanif, Sp.P(K) juga menyoroti penggunaan Tislelizumab, obat imunoterapi generasi baru yang menawarkan hasil pengobatan lebih baik dengan efek samping yang lebih ringan.
Direktur Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Erick Prawira Suhardi, MARS, menegaskan bahwa simposium bertema “New Era in Oncology Expertise & Technology” ini menjadi wadah kolaborasi antarspesialis, mulai dari dokter paru, onkologi, hingga toraks.
“Forum ini mempertemukan para pakar dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi dan terapi terbaru dalam menangani kanker paru — penyakit yang masih menjadi penyebab kematian nomor satu akibat kanker di dunia,” ujarnya.
Baca tanpa iklan