Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Sudah Diet Ketat Tapi BB Tak Turun? Dokter Gizi Bongkar Kesalahan yang Sering Disepelekan

Sudah mengurangi makan, tapi angka timbangan tak juga bergerak turun. Kondisi ini kerap membuat banyak orang frustrasi karena dietnya gagal.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Sudah Diet Ketat Tapi BB Tak Turun? Dokter Gizi Bongkar Kesalahan yang Sering Disepelekan
parapuan.co
Ilustrasi seseorang yang berusaha menambah berat badan 

Kombinasi protein dan serat bukan hanya membantu penurunan berat badan, tetapi juga menjaga kesehatan jantung serta menurunkan risiko diabetes.

Kurang Tidur dan Stres Diam-diam Gagalkan Diet

Diet sering kali hanya fokus pada makanan, padahal pola tidur dan kondisi psikologis memiliki pengaruh besar. 

Kurang tidur menyebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Saat tidur tidak cukup, hormon ghrelin meningkat sementara hormon leptin, yang memicu rasa kenyang, justru menurun. 

Akibatnya, keesokan hari tubuh cenderung mencari makanan tinggi gula dan lemak sebagai sumber energi instan.

Stres kronis juga berdampak signifikan. Produksi hormon kortisol yang tinggi dalam waktu lama memberi sinyal pada tubuh untuk menyimpan lemak.

Terutama di area perut. Kondisi ini sering diperparah dengan emotional eating, yaitu makan bukan karena lapar, melainkan sebagai respons terhadap emosi.

Rekomendasi Untuk Anda

Tanpa manajemen stres dan tidur yang cukup, diet seketat apa pun akan sulit memberikan hasil optimal.

Panduan Diet Sehat Agar Hasil Lebih Optimal

Agar diet berjalan lebih efektif dan tetap sehat, dr. Imelda Goretti menganjurkan penerapan pola makan seimbang sesuai panduan gizi.

Salah satunya dengan menerapkan konsep Isi Piringku, yakni setengah piring berisi buah dan sayur, seperempat karbohidrat kompleks, serta seperempat protein berkualitas. 

Variasi karbohidrat juga penting, seperti mengganti nasi putih dengan nasi merah, ubi, atau gandum yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dan serat lebih tinggi.

Asupan protein hewani dan nabati perlu diprioritaskan untuk menjaga metabolisme tetap aktif. 

Selain itu, mencukupi kebutuhan cairan minimal dua liter per hari penting dilakukan, karena rasa haus sering disalahartikan sebagai rasa lapar.

Pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak juga menjadi kunci, terutama dari makanan cepat saji, minuman kemasan, dan penggunaan minyak berlebih dalam pengolahan makanan sehari-hari.

Setiap Tubuh Berbeda, Konsultasi Jadi Kunci

Setiap orang memiliki kebutuhan kalori dan metabolisme yang berbeda. Diet yang berhasil pada satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. 

Karena itu, diet yang terasa sia-sia sebaiknya dievaluasi bersama tenaga medis.

Untuk mendapatkan strategi diet yang lebih tepat dan sesuai kondisi tubuh, masyarakat dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis gizi klinik agar penurunan berat badan berjalan lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas