Bayi Rewel Tak Selalu Sakit, Curigai GERD Jika Ada Tanda Ini!
Menurut Prof Badriul, kunci membedakan gumoh normal dan GERD terletak pada alarm klinis, bukan pada frekuensi gumoh atau tangisan semata.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- GERD bukan sekadar soal rewel atau gumoh, melainkan kerusakan dinding kerongkongan akibat paparan asam lambung yang berkepanjangan
- Sebagian besar gejala yang sering ditakuti orang tua justru bersifat normal pada bayi
- Bila tangisan dijadikan dasar awal mendiagnosis GERD, maka risiko salah diagnosis menjadi sangat besar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bayi rewel, sering menangis, dan gumoh berulang kerap membuat orang tua cemas.
Tak sedikit yang langsung melabelinya sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), padahal secara medis, rewel bukan penanda utama penyakit tersebut.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) menegaskan bahwa sebagian besar gejala yang sering ditakuti orang tua justru bersifat normal pada bayi.
Bayi Rewel Itu Normal, Jangan Jadikan Patokan GERD
Dalam praktik di lapangan, bayi yang menangis berlebihan sering dianggap pasti sakit.
Logikanya sederhana: jika sakit, bayi pasti rewel. Namun, pendekatan ini ternyata tidak selalu benar.
“Tangisan rewel, irritable itu normal loh pada bayi. Emang dia begitu rewel,” ujar Prof Badriul dalam Media Gathering & Health Talk dengan tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Bunda Stres Lihat Bayi Rewel karena Ruam Popok? Ini Cara Cerdas Menghindarinya
Ia menjelaskan bahwa bila tangisan dijadikan dasar awal mendiagnosis GERD, maka risiko salah diagnosis menjadi sangat besar.
Secara ilmiah, GERD bukan sekadar soal rewel atau gumoh, melainkan kerusakan dinding kerongkongan akibat paparan asam lambung yang berkepanjangan.
Melalui pemeriksaan pH kerongkongan selama 24 jam, ditemukan fakta menarik.
Sebagian besar bayi yang rewel dan menangis berlebihan ternyata memiliki paparan asam di kerongkongan di bawah 5 persen, angka yang masih tergolong normal.
“Kalau kita pakai tangisan berlebihan, irritable sebagai reflux disease, salah ya kita, ya?” tegas Prof Badriul.
Artinya, mayoritas bayi rewel tidak mengalami kerusakan esofagus dan tidak memenuhi kriteria GERD secara medis.
Ini Alarm GERD yang Sebenarnya, Bukan Sekadar Gumoh
Menurut Prof Badriul, kunci membedakan gumoh normal dan GERD terletak pada alarm klinis, bukan pada frekuensi gumoh atau tangisan semata.
Alarm tersebut antara lain:
- Berat badan tidak naik sesuai usia
- Regurgitasi disertai bercak darah
- Nyeri hebat hingga bayi melengkungkan tubuh ke belakang (Sandifer syndrome)
Baca tanpa iklan