Terlihat Gemuk dan Sehat tapi Kurang Gizi, Dokter Ingatkan Bahaya Pola Makan Anak yang Salah
Di banyak keluarga muda, pemandangan anak lahap makan dan bertubuh gemuk kerap menjadi sumber rasa lega.
Editor:
Anita K Wardhani
Namun di Indonesia, keterbatasan regulasi membuat pemeriksaan ini belum menjadi kebiasaan.
Padahal, berdasarkan pengalaman klinisnya, kondisi anak sering kali menipu.
“Nah tapi ternyata pada pasien-pasien saya, saya selalu menyarankan untuk pemeriksaan zat besi. Karena banyak sekali pasien yang ternyata gemuk-gemuk, sehat-sehat, pas dicek zat besinya kurang. Nah ini sangat berhubungan dengan kebutuhan sarap-sarap otak,” katanya.
Selain vitamin D dan zat besi, dr. Mesty menyebut banyak anak juga mengalami kekurangan zinc dan vitamin A.
Asupan makanan yang tampak banyak belum tentu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro secara seimbang.
Akar Gizi Sejak Kehamilan
Masalah ini, menurutnya, sering berakar sejak masa kehamilan.
Pola makan ibu hamil yang seadanya, terburu-buru, atau kurang bervariasi dapat memengaruhi preferensi rasa anak di kemudian hari.
Anak mengenal rasa sejak dalam kandungan, sehingga kualitas nutrisi ibu menjadi fondasi awal kebiasaan makan anak.
Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah pengenalan rasa manis terlalu dini saat MPASI.
Rasa manis yang nyaman membuat anak enggan menerima rasa gurih atau tekstur makanan utama.
Akibatnya, anak cenderung memilih snack, crackers, atau makanan instan yang mengenyangkan tapi minim zat gizi.
Di sisi lain, tren pemberian protein hewani berlebihan tanpa keseimbangan karbohidrat juga menjadi sorotan.
Banyak orang tua beranggapan protein adalah kunci utama, sementara karbohidrat dianggap bisa dikurangi.
Padahal, dr. Mesty menegaskan tubuh anak membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama.
Baca tanpa iklan