Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Bangkit dari El Nino, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD

Angka kematian akibat dengue di Indonesia berhasil ditekan hingga mencapai level terendah sepanjang beberapa tahun terakhir.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Bangkit dari El Nino, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
Shutterstock
KASUS DBD - Di tengah tekanan perubahan iklim global yang memicu peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di berbagai negara, Indonesia justru mencatatkan capaian penting dalam upaya penyelamatan nyawa.  

Ringkasan Berita:
  • Di tengah tekanan perubahan iklim global yang memicu peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di berbagai negara, Indonesia justru mencatatkan capaian penting dalam upaya penyelamatan nyawa. 
  • Angka kematian akibat dengue di Indonesia berhasil ditekan hingga mencapai level terendah sepanjang beberapa tahun terakhir.
  • Asnawi menegaskan bahwa Indonesia menunjukkan ketangguhan dalam manajemen klinis penyakit dengue, meskipun penyebaran penyakit masih terjadi di berbagai wilayah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah tekanan perubahan iklim global yang memicu peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di berbagai negara, Indonesia justru mencatatkan capaian penting dalam upaya penyelamatan nyawa. 

Angka kematian akibat dengue di Indonesia berhasil ditekan hingga mencapai level terendah sepanjang beberapa tahun terakhir.

Asnawi menegaskan bahwa Indonesia menunjukkan ketangguhan dalam manajemen klinis penyakit dengue, meskipun penyebaran penyakit masih terjadi di berbagai wilayah. 

Menurutnya, peningkatan kualitas layanan kesehatan serta keterlibatan aktif masyarakat berperan besar dalam menekan risiko kematian pasien.

Data Kementerian Kesehatan mencatat Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian akibat DBD terus mengalami penurunan secara konsisten. 

Rekomendasi Untuk Anda

Pada 2021, CFR DBD tercatat sebesar 0,9 persen. Angka tersebut kemudian menurun dan mencapai rekor terendah sebesar 0,4 persen pada 2025.

“Tren ini menunjukkan bahwa meskipun dengue masih menyebar di komunitas kita, semakin sedikit orang yang meninggal karenanya,” tandas Asnawi dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Selasa (10/2/2026). 

Penurunan angka kematian ini dinilai sebagai capaian signifikan, terutama setelah Indonesia sempat menghadapi lonjakan kasus DBD pada 2024 akibat fenomena El Niño. 

Kondisi iklim ekstrem tersebut meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk dan memperluas penyebaran penyakit di sejumlah daerah.

Namun, pada 2025 Indonesia mampu melakukan pemulihan dengan cepat melalui strategi penanganan yang lebih proaktif dan adaptif. 

Upaya tersebut mencakup penguatan layanan kesehatan, adopsi teknologi kesehatan terbaru, serta penguatan aksi pencegahan di tingkat komunitas.

Asnawi menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja keras tenaga kesehatan dan relawan yang berada di garis depan. 

Mereka berperan penting dalam memastikan pasien mendapatkan penanganan tepat waktu sekaligus mencegah penularan lebih luas di lingkungan masyarakat.

“Keberhasilan ini menunjukkan kekuatan layanan kesehatan kita dan dahsyatnya aksi komunitas, terutama melalui program Jumantik, relawan pemantau jentik kita yang bekerja dari pintu ke pintu untuk menghentikan dengue langsung dari sumbernya,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas