Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

10 Tanda Depresi Fungsional Tinggi yang Sering Tidak Disadari

Depresi fungsional tinggi membuat seseorang tampak sukses dan produktif meski mengalami tekanan emosional internal.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in 10 Tanda Depresi Fungsional Tinggi yang Sering Tidak Disadari
Pexels
KESEHATAN MENTAL - Ilustrasi depresi diambil dari situs bebas royalti Pexels. 

Di satu sisi, kondisi medis yang mendasari dapat memicu depresi. “Kondisi medis yang terjadi bersamaan, seperti diabetes atau kanker, dapat menimbulkan stres dan tekanan yang mengarah pada depresi,” kata Michelle Riba, profesor klinis psikiatri di Michigan Medicine.

Namun sebaliknya, depresi juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga membuat seseorang lebih rentan sakit.

10. Ada riwayat depresi dalam keluarga

“Mengetahui genetika dan riwayat keluarga bisa sangat membantu,” kata Dr. Riba.

Meski depresi adalah kondisi kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, studi menunjukkan genetika dapat meningkatkan risiko hingga 40 persen, menurut penelitian 2025 yang diterbitkan di Molecular Psychiatry. Jika ada riwayat keluarga, perubahan hidup dan stres dapat memicu kecenderungan biologis terhadap depresi.

Sifat yang terkait dengan depresi fungsional tinggi juga mungkin memiliki kaitan genetik. Misalnya, psikolog dan pakar perfeksionisme Thomas Curran menyebut sekitar 30% hingga 40% kecenderungan perfeksionisme bersifat diturunkan.

Waspadai tanda-tanda depresi fungsional tinggi

“Orang dengan depresi fungsional tinggi biasanya tidak hanya mampu menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga unggul dan berkinerja berlebihan,” kata Dr. Ramas.

“Karena itu, sulit bagi mereka menyadari bahwa penderitaan mereka adalah sesuatu yang perlu ditangani.”

Rekomendasi Untuk Anda

Penelitian Cureus menegaskan bahwa banyak orang dengan depresi fungsional tinggi tidak mencari bantuan sampai kondisi mereka sudah sangat terganggu atau mengalami krisis emosional. Seperti kondisi kesehatan mental lain yang tidak ditangani, keterlambatan perawatan meningkatkan risiko konsekuensi serius.

“Risikonya dapat berupa peningkatan kemungkinan bunuh diri, melukai diri sendiri, penyalahgunaan zat, atau gangguan kecemasan,” jelas Dr. Ramas.

Seiring waktu, individu dapat mengalami burnout, kesulitan mengelola banyak tanggung jawab, dan penurunan performa.

(*)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas