Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ketum PPTI Yani Panigoro Ungkap Perjuangan Kader Para Penyembuh TBC

TBC masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Ketua Umum PPTI Yani Panigoro membagikan kisah perjuangan kader dan tantangan memberantas penyakit ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Ketum PPTI Yani Panigoro Ungkap Perjuangan Kader Para Penyembuh TBC
Dok. Screenshot Youtube Tribunnews
LAWAN TBC - Ketua Umum PPTI Yani Yuhani Panigoro berbincang mengenai tantangan penanganan TBC di Indonesia dalam podcast Tribunnews. 

Pendampingan yang menuntut ketelatenan semacam itu sulit dijalankan tanpa jaringan yang luas hingga ke akar rumput.  Setelah suspek ditemukan dan diobati, kader masih harus mendampingi pasien agar disiplin menuntaskan pengobatan selama enam bulan.

Yani Panigoro, Insinyur yang Meneruskan Estafet Perjuangan

Bagi Yani, dedikasi para kader sangatlah membekas selama ia memimpin PPTI, sebab mereka rela berkhidmat meski kondisi ekonominya sendiri kerap pas-pasan

Ketulusan para kader di lapangan itu rupanya berpadu dengan keteguhan sosok di pucuk pimpinan. Menariknya, orang yang memimpin organisasi ini justru bukan berlatar belakang medis.

Yani Panigoro sendiri adalah insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang malang melintang sebagai peneliti, dosen, hingga pembina usaha kecil sejak 1985. Keterlibatannya di PPTI berakar pada warisan keluarga.

Mendiang kakaknya, Arwin Panigoro, telah menaruh perhatian besar pada isu TBC sejak 1994 dan turut menyokong pendirian gedung PPTI. Estafet itu kemudian berlanjut ke sang kakak ipar, Raisis yang sempat memimpin organisasi tersebut selama 12 tahun.

Setelah keduanya berpulang, para pengurus pun datang memintanya meneruskan perjuangan itu. Yani menyanggupinya karena meyakini latar belakang teknik bukanlah penghalang untuk berkhidmat.

"Walaupun saya bukan dokter, tapi dengan pengalaman manajemen saya, InsyaAllah saya bisa menjadi Ketua Umum PPTI. Jadi, saya meneruskan legasi yang sudah didirikan oleh beliau-beliau dan pendiri-pendiri yang lain," tuturnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Di bawah kepemimpinannya, PPTI berupaya menjaga kemandirian finansial agar tidak semata bergantung pada donasi dan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Salah satu caranya dengan mengelola klinik bernama Jakarta Respiratory Center sebagai penopang operasional.

Semangat itu kembali ditegaskan bertepatan dengan ulang tahun ke-58 PPTI pada 20 Mei 2026, seraya menyongsong target pemerintah mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030.

Yani pun optimistis target tersebut bisa dicapai apabila seluruh pihak mau bergerak bersama seperti halnya keberhasilan menekan pandemi Covid-19.

"Covid-19 saja bisa selesai karena semua pihak menurut. TB juga kalau semua pihak menurut, bisa," ujarnya.

Pada akhirnya, bagi Yani, memerangi penyakit senyap ini menuntut lebih dari sekadar program, melainkan ketulusan hati. Ia pun berpesan kepada para kader agar tidak pernah surut dalam mendampingi pasien.

"Untuk kader, jangan pernah lelah. Melihat mereka sembuh adalah kepuasan tersendiri," tuturnya.

Obrolan lengkap mengenai perjuangan PPTI dan kisah para kader di balik layar dapat disaksikan melalui tayangan podcast Ruang Rembug di kanal YouTube Tribunnews pada tautan ini.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas