VIDEO EKSKLUSIF Yani Panigoro: Kader Penyembuh TBC Bergerak Pakai Hati Meski Ekonomi Pas-pasan
“Betapa kader itu mulia hatinya. Walaupun secara ekonomi mungkin mereka kurang, tapi mau bergerak pakai hati”
Editor:
Srihandriatmo Malau
"TBC itu beda dengan COVID. Kalau COVID deteksinya cepat dan orang takut. Kalau TBC, orang batuk-batuk dianggap nanti juga sembuh sendiri. Tiba-tiba sudah batuk darah dan terlambat. Maka pendampingan kader ini sangat menyentuh hati saya karena mereka mau berkorban waktu dan tenaga," jelasnya.
Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Yani Panigoro membandingkan kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk.
"Penderita TBC di kota kalau hidup sehat, makan cukup, gizi lengkap, dan rumah ada jendelanya, biasanya aman. Tapi coba lihat di daerah yang rumahnya mepet-mepet, tidak ada jendela, tidak ada ventilasi. Satu rumah bisa diisi 10 orang," ujar Yani.
Optimis Target Eliminasi TBC 2030 Tercapai
Pemerintah Indonesia memasang target ambisius untuk mengeliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 mendatang.
Menanggapi hal itu, Yani Panigoro menyatakan optimisme yang dibarengi dengan catatan penting.
Ia berkaca pada keberhasilan Indonesia menangani pandemi COVID-19 dalam waktu singkat.
Menurutnya, TBC juga bisa dihilangkan asalkan ada kerja sama multisektor yang solid.
"COVID kok bisa selesai? Karena semua pihak ikut, semua nurut. TBC juga bisa kalau penderita, pemerintah, dan masyarakat paham bahayanya. Tantangannya adalah membuat semua orang mengerti bahwa TBC bisa sembuh asal konsisten," kata Yani.
Kisah Yani Panigoro Jadi Ketua Umum PPTI
Sosok Yani Panigoro kini memegang tongkat estafet kepemimpinan di PPTI.
Organisasi nirlaba ini bukanlah lembaga baru, melainkan organisasi pemberantasan TBC tertua di tanah air yang lahir sejak 1968.
Yani menceritakan alasan di balik kesediaannya menjadi Ketua Umum PPTI meskipun dirinya bukan berlatar belakang medis.
Iai mengakui bahwa keterlibatannya merupakan bentuk menjaga legacy atau warisan perjuangan keluarga besar Panigoro.