Gejala Gagal Jantung Kerap Disangka Maag dan Kelelahan, Dokter Minta Waspada
Gejala gagal jantung sering disangka maag dan kecapekan. Dokter ungkap tanda bahaya yang kerap diabaikan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Perut begah dan cepat lelah ternyata bisa jadi tanda awal gagal jantung tersembunyi.
- Dokter ungkap pasien gagal jantung sering salah dikira maag hingga gangguan lambung biasa.
- Sulit tidur datar dan berat badan naik cepat jadi alarm bahaya fungsi jantung.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Banyak orang mengira perut begah, cepat lelah, hingga sulit tidur hanyalah tanda maag atau kelelahan biasa. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi gejala awal gangguan fungsi jantung yang sering tidak disadari dan baru terdeteksi saat kondisinya memburuk.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan gagal jantung, dr. Dian Yaniarti Hasanah, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan kondisi ini tidak selalu diawali nyeri dada berat seperti yang umum dibayangkan masyarakat.
Dalam sejumlah kasus, pasien justru berulang kali berobat karena keluhan lambung, mudah lelah, hingga gangguan tidur tanpa menyadari sumber masalah sebenarnya berasal dari jantung.
“Minum obat maag nggak sembuh-sembuh, akhirnya dia ke psikiater. Padahal ternyata dia setelah dilihat lebih dalam, ini ternyata pasiennya gagal jantung,” ujar Dian dalam talkshow kesehatan virtual Kementerian Kesehatan, Minggu (24/5/2026).
Menurut Dian, gagal jantung merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit kardiovaskular. Penyebabnya beragam, mulai dari sumbatan pembuluh darah jantung, hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol, hingga infeksi virus serta konsumsi alkohol berlebihan.
“Yang terbanyak adalah sumbatan jantung, serangan jantung misalnya dulu, pas ada sumbatan jantung, kemudian hipertensi tidak terkontrol, diabetes tidak terkontrol,” katanya.
Gejala Awal Sering Diabaikan
Dian menjelaskan, salah satu tanda yang paling sering luput disadari ialah menurunnya kemampuan fisik secara perlahan.
Pasien yang sebelumnya mampu berjalan jauh atau beraktivitas normal mulai cepat lelah, mudah sesak, atau tidak lagi kuat beraktivitas seperti biasa. Namun perubahan itu kerap dianggap sekadar faktor usia, berat badan naik, atau kelelahan biasa.
“Awalnya kuat jalan 500 meter, eh sekarang cuma 50 atau 100 meter. Tapi ini mungkin karena pengaruh lambung atau pengaruh kecapekan atau pengaruh berat badan naik. Padahal harus hati-hati,” ujarnya.
Selain mudah lelah, gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi kaki bengkak, perut terasa penuh atau begah, hingga produksi urine yang mulai berkurang.
Menurut Dian, banyak pasien baru datang ke rumah sakit saat kondisi sudah berat karena gejala awal dianggap sepele atau dikira berkaitan dengan gangguan lain.
“Pasiennya ada bengkak-bengkak, dipikirnya ini masalah pembuluh darah atau masalah ginjal. Jadi tidak to the point ke penyakit dasarnya,” jelasnya.
Baca juga: Bukan Lagi Penyakit Lansia, Hipertensi dan Penyakit Jantung Kini Banyak Sasar Usia 20-30 Tahun
Sulit Tidur Datar Jadi Alarm Bahaya
Untuk membantu pasien mengenali tingkat keparahan gejala, Dian membagi kondisi ini ke dalam tanda hijau, kuning, dan merah.
Kondisi merah menjadi alarm darurat ketika pasien mulai tidak bisa tidur datar, produksi urine menurun drastis, hingga muncul mual dan muntah. Pada fase ini, pasien diminta segera menuju unit gawat darurat (UGD).
“Wah saya kok udah nggak bisa tidur datar sama sekali harus duduk. Kemudian BAK atau produksi urin sudah kurang sekali atau bahkan tidak ada, perut begah, mual muntah itu emang sudah nggak bisa ditunda lagi harus ke UGD,” katanya.