Sama-sama Bikin Sakit Perut dan Bisa Kambuh, Ini Perbedaan GERD dan Radang Usus Kronis
Masyarakat sering bingung membedakan GERD dan radang usus kronis. Apalagi keduanya sama-sama bisa kambuh dan dipengaruhi makanan maupun stres.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
“Pada IBD, pengobatan itu ada dua tahap,” katanya.
Tahap pertama disebut terapi induksi untuk meredakan radang dan mencapai remisi.
Setelah itu pasien menjalani terapi maintenance untuk mempertahankan kondisi tetap stabil.
“Ada orang setahun, dua tahun diobati, remisi, di-stop obatnya flare. Maka obat mesti dimulai kembali,” jelasnya.
Pada sebagian pasien, pengobatan bahkan bisa berlangsung seumur hidup tergantung tingkat keparahan penyakit.
Pemeriksaan Penting untuk Pastikan Diagnosis
Prof Murdani mengatakan masyarakat tidak bisa memastikan sendiri apakah keluhannya GERD atau IBD hanya berdasarkan gejala.
Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.
“Mungkin akan dilakukan EKG, endoskopi, gastroskopi untuk melihat lambungnya, esofagusnya,” katanya.
Selain itu, pada dugaan IBD dokter juga dapat melakukan pemeriksaan feses, kolonoskopi, dan biopsi.
“Untuk memilah mana yang GERD, mana yang IBD, mana yang bukan IBD,” ujarnya.
Prof Murdani mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan ketakutan ketika mengalami keluhan lambung atau pencernaan.
Namun di sisi lain, gejala yang berlangsung lama juga tidak boleh diabaikan.
“Banyak orang tambah stres karena takutnya saya dapat diagnosis GERD, waduh saya akan kanker esofagus,” katanya.
Padahal menurutnya, tidak semua GERD berujung komplikasi berat.
Karena itu ia menekankan pentingnya memahami kondisi secara tepat dan memeriksakan diri bila keluhan terus berulang.
“Lebih penting adalah mengkonfirmasikan ke ahlinya,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)