Dokter Ungkap Pentingnya Skrining Kanker untuk Deteksi Risiko Sejak Dini
Skrining kanker menjadi langkah penting dalam mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Skrining kanker penting untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala
- Dokter menegaskan skrining bukan untuk diagnosis, melainkan menyaring kelompok berisiko agar cepat mendapat penanganan lanjutan
- WHO merekomendasikan berbagai metode skrining, mulai LDCT, mamografi hingga tes HPV DNA
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Skrining kanker menjadi langkah penting dalam mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala.
Namun, pemeriksaan skrining tidak ditujukan untuk menegakkan diagnosis, melainkan menyaring kelompok masyarakat yang berisiko agar dapat segera memperoleh penanganan lebih lanjut.
Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, dr Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM menjelaskan skrining kanker ditujukan untuk populasi sehat dalam cakupan besar, sedangkan deteksi dini lebih bersifat individual dan dilakukan ketika seseorang sudah mulai mengalami gejala.
“Screening tidak untuk mendiagnosis, hanya menyaring yang sakit dan tidak. Pathway dalam skrining termasuk identifikasi populasi berbasis bukti, lalu dilakukan tes yang memang disetujui sebagai alat skrining,” ujar dr Santi saat sesi workshop bertema Comprehensive Cancer Screening di ajang Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Menurut dr Santi, keputusan melakukan skrining kanker harus mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari besarnya masalah kesehatan di suatu wilayah hingga efektivitas pemeriksaan yang dilakukan.
“Semua harus praktis, cost-effective, dapat mencegah peningkatan insiden, tesnya sederhana, aman, dan bisa diterima populasi. Selain itu juga harus tersedia terapi jika ditemukan hasil positif,” katanya.
Santi juga menjelaskan sejumlah metode skrining kanker berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk negara berkembang dengan sumber daya terbatas.
Untuk kanker paru, metode skrining yang direkomendasikan adalah low-dose CT scan (LDCT) bagi kelompok berisiko tinggi, yakni individu berusia di atas 50 tahun yang merokok atau memiliki riwayat merokok minimal 20 pack-year.
Low-dose CT scan dinilai lebih unggul dibandingkan rontgen toraks karena mampu menghasilkan gambaran lebih detail dengan paparan radiasi rendah, waktu pemeriksaan singkat sekitar 10 menit, serta tingkat akurasi lebih tinggi.
Sementara itu, pada kanker payudara, pemeriksaan mamografi dianjurkan bagi perempuan usia di atas 45 tahun setiap dua tahun sekali.
Baca juga: Memprihatinkan, Makin Banyak Perempuan Bukan Perokok Aktif Jadi Korban Kanker Paru
Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal apabila terdapat riwayat kanker payudara dalam keluarga. Pemeriksaan mutasi genetik BRCA juga disarankan bagi individu dengan faktor keturunan.
Untuk kanker kolon, pilihan skrining meliputi pemeriksaan berbasis feses (stool-based test) dan pemeriksaan visual pada kolon serta rektum.
Menurut dr. Santi, kelompok dengan risiko tinggi tetap harus menjalani skrining apa pun metode yang digunakan sedangkan pada kanker serviks, WHO merekomendasikan metode IVA dan tes HPV DNA untuk negara dengan keterbatasan sumber daya.
Penjelasan lebih lanjut mengenai skrining kanker serviks disampaikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi Ginekologi MRCCC Siloam Semanggi, Widyorini Lestari Hanafy.
Ia mengatakan dokter umum dan bidan menjadi tulang punggung pemeriksaan kanker serviks di rumah sakit daerah maupun fasilitas kesehatan tingkat dasar.
Baca juga: Banyak yang Belum Tahu, Deteksi Dini Kanker Paru Bisa di RS Tipe C Lewat Puskesmas