Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dokter Ungkap Pentingnya Skrining Kanker untuk Deteksi Risiko Sejak Dini

Skrining kanker menjadi langkah penting dalam mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
zoom-in Dokter Ungkap Pentingnya Skrining Kanker untuk Deteksi Risiko Sejak Dini
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
SKRINING KANKER PAYUDARA MAMMOGRAFI - Dokter menunjukkan prosedur penggunaan teknologi mammografi 3D Mammomat B.briliant di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025). Skrining kanker berperan penting mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala, guna membantu penanganan lebih lanjut bagi kelompok berisiko.  
Ringkasan Berita:
  • Skrining kanker penting untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala 
  • Dokter menegaskan skrining bukan untuk diagnosis, melainkan menyaring kelompok berisiko agar cepat mendapat penanganan lanjutan 
  • WHO merekomendasikan berbagai metode skrining, mulai LDCT, mamografi hingga tes HPV DNA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Skrining kanker menjadi langkah penting dalam mendeteksi risiko penyakit sejak dini sebelum muncul gejala.

Namun, pemeriksaan skrining tidak ditujukan untuk menegakkan diagnosis, melainkan menyaring kelompok masyarakat yang berisiko agar dapat segera memperoleh penanganan lebih lanjut.

Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi,  dr Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM menjelaskan skrining kanker ditujukan untuk populasi sehat dalam cakupan besar, sedangkan deteksi dini lebih bersifat individual dan dilakukan ketika seseorang sudah mulai mengalami gejala.

Screening tidak untuk mendiagnosis, hanya menyaring yang sakit dan tidak. Pathway dalam skrining termasuk identifikasi populasi berbasis bukti, lalu dilakukan tes yang memang disetujui sebagai alat skrining,” ujar dr Santi saat sesi workshop bertema Comprehensive Cancer Screening di ajang Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurut dr Santi, keputusan melakukan skrining kanker harus mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari besarnya masalah kesehatan di suatu wilayah hingga efektivitas pemeriksaan yang dilakukan.

“Semua harus praktis, cost-effective, dapat mencegah peningkatan insiden, tesnya sederhana, aman, dan bisa diterima populasi. Selain itu juga harus tersedia terapi jika ditemukan hasil positif,” katanya.

Santi juga menjelaskan sejumlah metode skrining kanker berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk negara berkembang dengan sumber daya terbatas.

Rekomendasi Untuk Anda

Untuk kanker paru, metode skrining yang direkomendasikan adalah low-dose CT scan (LDCT) bagi kelompok berisiko tinggi, yakni individu berusia di atas 50 tahun yang merokok atau memiliki riwayat merokok minimal 20 pack-year.

Low-dose CT scan dinilai lebih unggul dibandingkan rontgen toraks karena mampu menghasilkan gambaran lebih detail dengan paparan radiasi rendah, waktu pemeriksaan singkat sekitar 10 menit, serta tingkat akurasi lebih tinggi.

Sementara itu, pada kanker payudara, pemeriksaan mamografi dianjurkan bagi perempuan usia di atas 45 tahun setiap dua tahun sekali.

Baca juga: Memprihatinkan, Makin Banyak Perempuan Bukan Perokok Aktif Jadi Korban Kanker Paru

Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal apabila terdapat riwayat kanker payudara dalam keluarga. Pemeriksaan mutasi genetik BRCA juga disarankan bagi individu dengan faktor keturunan.

Untuk kanker kolon, pilihan skrining meliputi pemeriksaan berbasis feses (stool-based test) dan pemeriksaan visual pada kolon serta rektum.

Menurut dr. Santi, kelompok dengan risiko tinggi tetap harus menjalani skrining apa pun metode yang digunakan sedangkan pada kanker serviks, WHO merekomendasikan metode IVA dan tes HPV DNA untuk negara dengan keterbatasan sumber daya.

Penjelasan lebih lanjut mengenai skrining kanker serviks disampaikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi Ginekologi MRCCC Siloam Semanggi, Widyorini Lestari Hanafy.

Ia mengatakan dokter umum dan bidan menjadi tulang punggung pemeriksaan kanker serviks di rumah sakit daerah maupun fasilitas kesehatan tingkat dasar.

Baca juga: Banyak yang Belum Tahu, Deteksi Dini Kanker Paru Bisa di RS Tipe C Lewat Puskesmas

Menurut dr. Widyorini, metode skrining kanker serviks di Indonesia saat ini meliputi Pap smear, IVA, dan tes HPV DNA.

“Pada tes Pap smear, sensitivitasnya hanya sekitar 60 persen, terkadang dapat terjadi false negative, membutuhkan infrastruktur kompleks, serta kurang akurat pada perempuan pascamenopause,” jelasnya.

Sementara pada pemeriksaan IVA, prosedur dan alat yang digunakan lebih sederhana. Namun, tenaga kesehatan tetap membutuhkan pelatihan berulang agar mampu melakukan pemeriksaan secara optimal.

Ke depan, skrining kanker serviks di Indonesia diarahkan menggunakan pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan tersebut diharapkan nantinya dapat dilakukan hingga tingkat Puskesmas setelah proses validasi alat sesuai standar WHO selesai dilakukan.

“Prinsip tatalaksana jika hasil skrining abnormal: make it simple, dan pastikan lihat visual serviks,” tegas dr. Widyorini.

Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady mengatakan, Siloam Oncology Summit memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia dan kolaborasi internasional melalui kehadiran pembicara dari berbagai negara dan kemitraan strategis dengan institusi dunia, termasuk The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson).

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas