Lupus Bisa Cepat Terkendali atau Naik Turun, Ini Faktornya
Lupus bisa cepat terkendali atau naik turun, dokter ungkap faktor penentu utama mulai diagnosis hingga terapi awal pasien.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Kecepatan diagnosis menjadi faktor utama menentukan kontrol lupus pada pasien
- Ketepatan terapi sejak awal memengaruhi peluang penyakit masuk fase terkendali
- Kondisi sosial ekonomi turut memengaruhi konsistensi pengobatan jangka panjang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perjalanan lupus pada setiap pasien tidak selalu sama. Sebagian dapat mencapai kondisi terkendali (remisi/kondisi gejala menurun), sementara lainnya mengalami fluktuasi gejala hingga komplikasi organ.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, menyebut perbedaan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, terutama kecepatan diagnosis dan ketepatan terapi sejak awal.
Diagnosis dini menjadi penentu utama
Menurut dr. Sandra, waktu penegakan diagnosis menjadi faktor paling penting dalam menentukan peluang penyakit terkendali.
“Nah kemudian faktor apa yang mempengaruhi remisi? Faktor paling penting menurut saya adalah cepatnya diagnosis,” ujarnya dalam konferensi Hari Lupus Sedunia, Selasa (26/5/2026).
Keterlambatan diagnosis membuat banyak pasien baru terdeteksi setelah penyakit sudah menyerang organ vital, sehingga peluang kondisi stabil menjadi lebih kecil.
Kerusakan organ memperberat kondisi
Ia menjelaskan, lupus dapat menyerang organ penting seperti ginjal, jantung, paru-paru, hingga sistem saraf.
“Kalau sudah terlanjur terjadi gangguan organ, apalagi kalau sudah berat, itu akan sulit untuk mencapai remisi,” kata dr. Sandra.
Dalam kondisi tersebut, pengendalian penyakit menjadi lebih kompleks dan membutuhkan penanganan jangka panjang.
Baca juga: 3 Mitos Keliru Seputar Lupus yang Bisa Hambat Kesembuhan Si Penderita
Terapi awal menentukan arah penyakit
Selain diagnosis, respons awal terhadap terapi juga menjadi faktor kunci.
“Faktor yang lain, faktor tepatnya pengobatan sejak awal. Dan termasuk juga agresifnya pengobatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan tidak bersifat seragam dan harus disesuaikan dengan tingkat aktivitas penyakit pada masing-masing pasien.
Terapi inovatif untuk kasus resisten
Pada sebagian pasien, terapi standar seperti kortikosteroid dan hydroxychloroquine tidak memberikan respons optimal.
Dalam kondisi tersebut, dokter dapat mempertimbangkan terapi lanjutan.
“Dalam 2–3 bulan kita langsung memberikan terapi inovatif anifrolumab,” kata dr. Sandra.