Mengerikan, Makanan Sehari-hari Bisa Picu Penyakit Serius pada Anak Kecil
Kata WHO Diare menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang sekaligus masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak di usia rentan tersebut.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Perubahan iklim meningkatkan risiko kontaminasi, sementara resistensi antimikroba membuat infeksi akibat makanan semakin sulit diobati.
- Isu keamanan makanan kini tak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan publik.
- Apa yang tersaji di meja makan setiap hari bisa menjadi penentu penting bagi kesehatan jangka panjang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Makanan yang tampak biasa di meja makan ternyata bisa menyimpan risiko serius bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
Baca juga: WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor Kesehatan Lebanon, 128 Nakes Tewas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit akibat makanan yang tidak aman, dengan risiko hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar maupun orang dewasa.
Temuan ini menegaskan bahwa keamanan pangan bukan sekadar persoalan kebersihan makanan, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan kesehatan generasi muda.
Dalam estimasi terbarunya, WHO menyebut anak-anak di bawah usia lima tahun hanya mencakup sekitar 9 persen populasi dunia.
Namun, kelompok usia ini justru menanggung hampir sepertiga dari seluruh kasus penyakit bawaan makanan.
Diare menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang, sekaligus masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak di usia rentan tersebut.
Selain infeksi, anak juga menghadapi risiko dari paparan zat kimia berbahaya dalam makanan. Zat seperti metilmerkuri dan timbal disebut dapat mengganggu perkembangan otak serta memicu gangguan neurologis jangka panjang.
WHO memperkirakan, makanan tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.
Angka ini menunjukkan bahwa isu keamanan pangan masih menjadi tantangan besar kesehatan global.
“Makanan yang tidak aman selalu menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat, tetapi hingga sekarang kita kekurangan gambaran yang lebih besar tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Perkiraan baru ini mengubah hal itu,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip Kamis (4/6/2026).
Baca juga: 20 Persen Pelajar Konsumsi Tembakau, WHO Desak Putus Siklusnya di Anak Muda
Meski secara global beban penyakit disebut menurun sejak tahun 2000, ketimpangan antarwilayah masih terlihat jelas. Afrika dan Asia Tenggara tercatat sebagai kawasan dengan beban penyakit akibat makanan yang paling tinggi.
Menariknya, laporan WHO juga menunjukkan bahwa meski sebagian besar kasus penyakit dipicu oleh bakteri, virus, dan parasit, justru kematian paling banyak disebabkan oleh paparan bahan kimia.
Pada 2021, sekitar 73 persen kematian akibat makanan terkontaminasi dikaitkan dengan bahan kimia berbahaya. Beberapa di antaranya adalah arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri, yang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, hingga gangguan perkembangan otak.
WHO mencatat, arsenik anorganik dan timbal saja berkaitan dengan lebih dari satu juta kematian dalam satu tahun.