Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Dalang Cilik Aming Ajen Getarkan Sukabumi

Ribuan orang yang datang ke Alun-Alun Desa Pasir Panjang, Ujung Genteng, dibuat terpana. Semua terlihat serius menonton atraksi dalang cilik Aming.

Dalang Cilik Aming Ajen Getarkan Sukabumi
dok. Kemenpar

Sabtu (30/6), Desa Pasir Panjang, Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dibuat heboh oleh Wayang Ajen. Shownya spektakuler. Narasinya penuh pesan kebajikan. Semua dimainkan dengan keren oleh dalang cilik Aming Ajen yang baru berusia 13 tahun.

Ribuan orang yang datang ke Alun-Alun Desa Pasir Panjang, Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, dibuat terpana. Semua terlihat serius menonton atraksi dalang cilik yang banyak memberi hiburan.

"Ada nilai edukasinya. Ada pesan moralnya, ada nilai sosialnya. Ada juga lucunya. Sukabumi dibuat 'bergetar'. Sangat menghibur," tutur Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, Selasa (2/7).

Cerita yang diangkat juga oke. Sangat kekinian. Yang menarik, arahan, panduan dibuat via digital. Script, suluk, kakawen atau nyanyian dalang, sabet atau cara gerak wayang, semua dilakukan via hape. Semua dipandu jarak jauh oleh dalang kondang senior Wawan Ajen.

"Pesan yang ingin saya sampaikan adalah ada pengkaderan Wayang Ajen. Dan pengkaderannya memanfaatkan teknologi digital," timpal Dalang Wawan Ajen.

Pria yang juga menjabat Kabid Pemasaran Area I (Jawa) Kemenpar itu, mencoba memberikan inspirasi dengan cerita karya Bambang Suta Ismaya. Ceritanya berkisah seputar sosok jahat Prabu Aryadewa dari kelompok jin. Dia dikisahkan mengganggu ketentraman putra pendawa dengan berniat membinasakan Semar, tokoh panutan Pandawa

"Tapi di situ putra Pendawa meng-counter dengan kerja nyata, menciptakan kerukunan, keharmonisan, tidak saling menyerang. Itu pesan moralnya. Naskah dan sutradara dibuat saya sendiri," tambahnya.

Dan seperti biasa, Dalang Wawan Ajen menyisipkan daya tarik utamanya. Yaitu konsep wayang kekinian (millennial). Hal inilah yang membuat Aming Ajen menjadi tontonan yang lebih menarik.

"Panggung Wayang Ajen adalah destinasi pariwisata budaya. Tersaji atraksi yang lengkap dan apik sebagai paduan potensi kultur yang saling melengkapi," terang Kadispar Kab Sukabumi H. Usman Jaelani.

Aming Ajen menceritakan bagaimana kekuasaan Bangsa Kurawa. Di bawah kekuasaan Raja Astina Duryudana, yang disokong kroni-kroninya yang jahat dan culas. Seperti Dursasana, Sengkuni dan Dorna, mereka selalu mencari celah untuk menghancurkan Pandawa dari Negeri Amarta.

Sementara Ksatria Amarta putra Pandawa Bima, Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa, di bawah wejangan Prabu Kresna, Gatutkaca dan Semar selalu waspada. Mereka penuh dengan ketenangan dan kebajikan dalam menghadapi tantangan.

"Keren banget. Ada tontonan menarik yang mengedepankan pesan moral. Masyarakat Sukabumi juga keren sangat mengapresiasi pertunjukannya dengan serius. Semuanya berlangsung luar biasa," tutur, Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II, Adella Raung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga ikut mengapresiasi. Dia mengaku sangat senang dengan misi yang diusung Wayang Ajen.

"Wayang Ajen adalah representasi dari budaya. Khususnya budaya Jawa Barat. Yang menarik, Wayang Ajen selalu memberikan edukasi. Selalu ada pesan moral kepada masyarakat. Dan pesan ini berlaku untuk semua golongan. Anak muda maupun dewasa. Itulah letak kehebatan Wayang Ajen," paparnya. (*)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas