Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Satu Tahun Jadi Juru Bicara, dr. Reisa: Ini Bukan Tentang Angka

dr. Reisa menceritakan pandangannya menjadi juru bicara Covid-19 untuk pemerintah. Ia juga mengutarakan berbagai upaya pemerintah menghadapi krisis.

Satu Tahun Jadi Juru Bicara, dr. Reisa: Ini Bukan Tentang Angka
Tangkap layar channel YouTube Sekretariat Presiden
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 dr Reisa Brotoasmoro.jpg 

TRIBUNNEWS.COM - Dua belas bulan, 366 hari sudah dr Reisa Broto Asmoro bertugas sebagai juru bicara Covid-19. Ia belajar bahwa setiap orang punya cerita yang berbeda dalam bersinggungan dengan COVID-19.

"Ada banyak masa berduka dan banyak lagi orang memiliki kisah lebih sedih dari yang saya alami. Memang sekilas, tidak ada yang baik tentang pandemi ini. Meski, saya bersyukur kepada Tuhan karena telah mampu melewati setahun yang tidak mudah ini, tetapi jujur saja, jika waktu boleh diulang, saya lebih suka menghindari pandemi. Saya lebih memilih mencari cara mencegahnya terjadi," kata dr. Reisa.

Ratusan tenaga kesehatan yang telah gugur, di mana sebagiannya adalah kolega dan guru sesama dokter, menyisakan kehilangan baginya.

"Kehilangan yang luar biasa yang sampai saat ini masih saya rasakan. Tentunya juga gugurnya para pejuang ini jadalah kerugian negara. Dalam rangka menjadi dokter, di Indonesia, seseorang harus menghabiskan setidaknya enam tahun belajar. Belum lagi serangkaian Pendidikan spesialis, pasca sarjana, berbagai kursus, dan pemenuhan kualifikasi akademik lainnya yang harus mereka lalui untuk dapat disebut ahli di bidangnya," kata dr. Reisa. Mencetak dokter-dokter berikutnya, menurutnya, bukanlah perjalanan singkat.

dr. Reisa juga menyinggung banyaknya inisiatif berdasarkan solidaritas tinggi yang menulari berbagai
kelompok di seluruh Indonesia. Masyarakat saling membantu bukan saja pasien Covid-19, tetapi juga membantu mereka yang terkena dampak krisis ekonomi.

"Inisiatif Desa Tangguh dan Jogo Tonggo adalah contoh virus baik yang menular. Inisiatif yang
secara harfiah berarti menjaga tetangga Anda adalah inspirasi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyrakat berskala Mikro (PPKM Mikro). Dengan sebutan yang bervariasi di 34 provinsi, semangat yang sama untuk saling peduli dan mengawasi, atau bahkan saling merawat anggota masyarakat membutuhkan telah meluas di seluruh pelosok negeri," ungkap dr. Reisa.

Ia juga memaparkan beberapa upaya pemerintah yang terus mencari cara untuk mencegah lebih banyak kematian dan memastikan masyarakat semakin aman dari ancaman virus.

Kapasitas pengujian sampel (testing) telah meningkat dari 10 ribu menjadi lebih dari 50.000 sampel setiap hari. Jumlah laboratorium telah berkembang menjadi sekitar 800 laboratorium di seluruh negeri. 

Peningkatan tersebut, menurutnya, dimungkinkan dengan dukungan dari puluhan ribu tracers atau petugas pelacak kasus yang merupakan gabungan dari tenaga Kesehatan, dan polisi dan prajurit TNI.

"Ribuan relawan juga direkrut dan dilatih untuk mendukung tracing, dan berbagai tugas yang biasa diemban tenaga Kesehatan. Mereka bertugas mulai dari penyedia layanan kesehatan tingkat terendah, seperti puskesmas sampai dengan di rumah sakit-rumah sakit rujukan," tulis dr. Reisa.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas