Tribun Lifestyle
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pentingnya Psychological First Aid pada Anak Pascabencana

Beberapa contoh trauma pada anak pasca bencana adalah gangguan kecemasan, mudah panik, stres akut sampai depresi.

Pentingnya Psychological First Aid pada Anak Pascabencana
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Badut yang tergabung dalam Yayasan Aku Badut Indonesia (ABI) menghibur anak-anak korban kebakaran di Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (22/9/2020). Penyembuhan trauma atau trauma healing kepada anak-anak korban bencana penting dilakukan agar dapat tumbuh dengan baik. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat terjadi bencana, bukan hanya bangunan sekolah yang roboh, kegiatan yang berkaitan pendidikan pun praktis terhenti.

Dampak bencana yang tidak kalah penting namun seringkali luput dari perhatian adalah gangguan kejiwaan (psikologis) pada anak atau biasa disebut trauma.

Berbeda dengan biaya kerusakan secara sosial atau ekonomi yang dapat dihitung, dampak psikologis pada anak pasca bencana tidak dapat diprediksi waktu, durasi serta intensitasnya.

Gejala trauma yang muncul pun juga berbeda-beda, sehingga tidak dapat dibandingkan antara satu anak dengan anak lainnya.

Beberapa contoh trauma pada anak pasca bencana adalah gangguan kecemasan, mudah panik, stres akut sampai depresi.

Gejala-gejala tersebut apabila diabaikan tentunya akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mentalnya.

Baca juga: TNI AD Berikan Healing Treatment Bagi Anak-anak Korban Bencana Gempa Bumi di Mamuju

Besarnya dampak trauma pasca bencana pada anak mendorong peran orang dewasa, dalam hal ini guru untuk turun tangan melakukan pemulihan.

Hal tersebut juga yang melatarbelakangi Cetta Satkaara bersama Rumah Guru BK (RGBK) untuk mencetuskan program edukasi trauma healing pasca bencana.

Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK) pada Sabtu, 10 April 2021, menghadirkan pemateri Christina Dumaria Sirumapea M.Psi.,Psikolog, Psikolog Klinis Dewasa dan Associate Assessor di TigaGenerasi serta Ana Susanti, M.Pd, Founder RGBK dan Widyaiswara di Kemendikbud RI. Webinar ini diikuti oleh 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia.
Webinar Pelatihan Psikososial dan Trauma Healing Bagi Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK) pada Sabtu, 10 April 2021, menghadirkan pemateri Christina Dumaria Sirumapea M.Psi.,Psikolog, Psikolog Klinis Dewasa dan Associate Assessor di TigaGenerasi serta Ana Susanti, M.Pd, Founder RGBK dan Widyaiswara di Kemendikbud RI. Webinar ini diikuti oleh 200 guru terpilih setingkat SD, SMP dan SMA Sederajat di seluruh Indonesia. (Istimewa)

Co Founder dan Senior Advisor PT Cetta Satkaara, Ruth Andriani menuturkan rentetan bencana yang terjadi di tanah air belakangan ini membawa keprihatinan dan menggugah rasa kemanusiaan untuk ikut menolong.

Baca juga: Kemnaker Fokus Perhatikan Psikologis dan Mental Pekerja Migran

Namun sayangnya, bantuan di ranah psikologis masih sering terlupakan, padahal banyak korban yang masih menyisahkan trauma psikis berkepanjangan pasca bencana.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Willem Jonata
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas