Doa ketika Mendengar Petir, Dibaca saat Hujan dan Kilat Menyambar
Doa ketika mendengar petir dapat dibaca saat hujan dan kilat menyambar. Petir disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ketika diterpa hujan disertai petir dan kilat, mereka ketakutan dan kebingungan.
Setelah pagi menjelang mereka menghadap beliau, menyatakan masuk Islam, dan membaiat Rasulullah Saw, serta mendekatkan diri mereka kepada Allah.
2. QS. Al-Baqarah: 20
“Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan dibawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 20)
Ayat ini melanjutkan perumpamaan sebelumnya. Kilat melambangkan cahaya petunjuk Allah, sementara gelap melambangkan kebingungan dan kesesatan. Orang munafik hanya mau mengikuti kebenaran jika menguntungkan mereka.
Allah menegaskan bahwa Dia Mahakuasa atas segalanya, termasuk pendengaran dan penglihatan manusia. Ini menjadi peringatan bahwa kemampuan memahami kebenaran adalah karunia Allah yang bisa dicabut kapan saja.
3. QS. Ar-Ra'd: 12
“Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat (untuk menimbulkan) ketakutan dan harapan (akan turun hujan) serta menjadikan awan yang berat (mendung)." (QS. Ar-Ra'd: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa kilat adalah tanda kekuasaan Allah SWT yang memiliki dua sisi yaitu menimbulkan rasa takut dan sekaligus harapan. Takut karena potensi bahaya, dan harapan karena hujan membawa kehidupan.
Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika seorang penguasa sombong menolak dakwah Rasulullah Saw. Lalu Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui awan, guruh, dan petir sebagai peringatan.
4. QS. Ar-Ra'd: 13
“Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya." (QS. Ar-Ra'd: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa alam semesta, termasuk guruh, tunduk dan bertasbih kepada Allah. Petir bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari kehendak dan kekuasaan-Nya.
Sementara manusia masih membantah dan meragukan kekuasaan Allah, petir menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu memberi peringatan atau azab kapan saja kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
5. QS. Al-Baqarah: 55
“(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikannya." (QS. Al-Baqarah: 55)
Ayat ini menceritakan sikap Bani Israil yang sombong dan melampaui batas dengan meminta melihat Allah secara langsung. Permintaan itu bukan lahir dari iman, tetapi dari pembangkangan.
Sebagai akibatnya, Allah menurunkan petir sebagai teguran keras agar mereka menyadari keterbatasan manusia di hadapan kebesaran-Nya.
6. QS. An-Nisā': 153
“Meminta kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sungguh, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar daripada itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata”. Maka, petir menyambar mereka karena kezalimannya. Kemudian, mereka menjadikan anak sapi (sebagai sembahan), (padahal) telah datang kepada mereka bukti-bukti (ketauhidan) yang nyata, lalu Kami memaafkan yang demikian itu. Kami telah menganugerahkan kepada Musa kekuasaan yang nyata”. (QS. An-Nisā': 153)
Baca tanpa iklan