Fenomena Gangguan Mental Balik Curhat Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas yang Kontroversial
Sikap Dwi Sasetyaningtyas tak bisa diartikan membenci negaranya, tapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Konten video alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas viral. Sebab, di video tersebut ia mengatakan cukup dirinya yang menjadi WNI, anaknya jangan. Ia menyampaikannya dengan suka cita hingga memicu kontroversi
- Ia sendiri menginformasikan ke publik melalui kontennya, bahwa anaknya baru saja mendapat kewarganegaraan Inggris.
- Psikiater Lahargo Kembaren menangkap fenomena stres di balik keputusan Dwi Sasetyaningtyas membuat konten tersebut
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Viral alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas melalui konten di media sosialnya yang menyebut “cukup aku aja jadi WNI, anak-anakku jangan,”. Kontennya jadi sorotan hingga menuai kontroversi.
Dalam salah satu videonya, ia tampak bahagia dan bangga ketika membuka paket yang berisi dokumen kewarganegaraan anak keduanya.
Paket tersebut sudah lama ia nanti dan menjadi pertanda bahwa anaknya resmi menyandang Warga Negara Inggris.
Psikiater Lahargo Kembaren melihat ada gejala gangguan mental di balik pengakuan atau curhat Dwi Sasetyaningtyas. Tak menutup kemungkinan Dwi stres menjadi WNI karena beberapa faktor.
Baca juga: Menkeu Purbaya Tanggapi Kasus Alumni LPDP: Enggak Apa-apa Enggak Patriotis, tapi Jangan Hina Negara
"Fenomena stres menjadi WNI dapat dialami karena berbagai faktor. Tidak semua orang mengalaminya,” kata dia dalam pernyataan tertulisnya Senin (23/2).
Ia mengatakan, pada tinjauan psikologis, ada beberapa faktor yang menyebabkannya:
a. Stres kolektif
Ketika seseorang terus menghadapi isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik, maka akan muncul rasa tidak percaya terhadap sesuatu yang terasa besar.
Ini membuat sebagian orang merasa lelah secara emosional atau burn out.
"Ini terlihat dari tren diskusi publik dan konten viral yang mengekspresikan kekecewaan terhadap kondisi negara atau masa depan di media sosial," kata dia.
b. Perbandingan sosial dan kecemasan masa depan
Melihat situasi dan bayangan hidup lebih baik di luar negeri dapat memicu munculnya perbandingan sosial.
Hal ini tidak bisa diartikan bahwa individu itu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan.
c. Paparan berita negatif
Terlalu sering mengonsumsi konten bernuansa krisis dapat membuat seseorang melihat situasi terasa lebih buruk dari kenyataan, sehingga cenderung berpikir berlebihan.
“Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan," kata dia
Baca tanpa iklan