Tribun

Niluh Djelantik Tolak Dukung Anies Baswedan Jadi Capres karena Masih Terluka di Pilkada DKI Jakarta

Niluh menyatakan bahwa pandangannya terhadap Anies Baswedan berubah saat Pilkada DKI Jakarta 2017.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Niluh Djelantik Tolak Dukung Anies Baswedan Jadi Capres karena Masih Terluka di Pilkada DKI Jakarta
Kloase Tribunnews.com
Niluh Djelantik (kiri) dan Surya Paloh bersama Anies Baswedan (kanan). Alasan Niluh Djelantik mundur dari NasDem usai Anies Baswedan deklarasi Capres 2024 ternyata terkait Pilkad DKI 2017. Niluh diketahui mendukung Ahok saat Pilkada DKI Jakarta 2017. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Eks Kader Partai NasDem Niluh Djelantik menolak mendukung Anies Baswedan menjadi calon presiden karena masih terluka di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Anies Baswedan disebut menikmati polarisasi yang terjadi di masyarakat.

Awalnya, Niluh menyatakan dirinya mengidolakan Anies Baswedan sejak masih menjadi rektor di Universitas Paramadina.

Dia kemudian semakin mengidolakan saat Anies ditunjuk menjadi juru bicara Jokowi di Pilpres 2014.

"Beliau kan adalah juru bicara dari Jokowi. Saya melihat nasionalisme beliau itu sebagai seorang pendidik, sebagai seorang rektor termuda di negeri ini di Paramadina. Saya lihat beliau adalah pada saat itu saya melihat beliau memiliki potensi dan beliau bersama orang baik ini, saya sudah berkomunikasi sejak lama sebenarnya dengan mas Anies hingga akhirnya beliau diangkat menjadi menteri," kata Niluh dalam webinar Tribun Series: Mengapa Mundur Setelah Anies Diusung Bakal Capres?" Jumat (7/10/2022).

Baca juga: Niluh Djelantik Menangis Disebut Tidak Berbuat Apapun untuk NasDem: Menyakiti Basis Massa di Bali

Niluh menyatakan bahwa pandangannya terhadap Anies Baswedan berubah saat Pilkada DKI Jakarta 2017.

Saat itu, dirinya menjadi relawan pemenangan dari pasangan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.

Ia menuturkan bahwa Anies disebut menikmati polarisasi yang terjadi di masyarakat saat Pilkada DKI Jakarta tersebut. Saat itu, dia mengaku telah kecewa dengan sikap Anies.

"Proses Pilkada itu membuat saya, karena saya mengalami kesehariannya, membuat saya sangat patah hati, gitu loh sangat bersedih. Karena bukan mas Anies yang mengatakan haram hukumnya memilih pemimpin kafir, bukan mas Anies yang mengatakan menolak mensalatkan mayat yang memilih Ahok, bukan mas Anies bukan dari bibirnya keluar," ungkapnya.

"Akan tetapi saya melihat, beliau di sana seolah-olah duduk dan menikmati dan enjoy dan mungkin itu salah satu cara dia agar saya bisa meraih kekuasaan itu untuk menjadi dekat buat rakyat," sambungnya.

Lebih lanjut, Niluh menuturkan bahwa kekecewaan tersebut pun terus disimpannya hingga sekarang. Bahkan, kekecewaan inilah yang membuatnya terjun masuk ke partai politik.

"Kekecewaan itu saya simpan, saya simpan dan kemudian akhirnya karena masukan dari bapak BTP saya memutuskan untuk masuk berjuang dari dalam sistem yaitu partai politik. Dan itu pun masukan dari bapak BTP loh pak," jelasnya.

Niluh mengharapkan Anies bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Pilkada DKI 2017 sehingga membuat terjadinya polarisasi.

"Jadi tidak ada benci saya secara personal kepada Anies Baswedan, tidak ada kekesalan saya secara personal, akantetapi saya sangat berharap dia memiliki jiwa besar, dia memiliki kemampuan merangkul, bukan hanya sekedar ke Pure ini atau ke Wihara ini atau ke Gereja ini tapi dia bisa mengatakan secara global, secara nasional saya minta maaf atas apa yang terjadi di pilkada 2017 yang mungkin bukan kesalahan saya akan tetapi yuk kita bareng-bareng yuk bangun bangsa ini," jelasnya.

"Jadi yang masa lalu biarlah masa lalu, saya minta maaf sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas apa yg terjadi di 2017. Nah kami-kami ini yang merasa minoritas kami-kami ini yang merasa apa yang perjuangkan selama ini, kami pasti akan menjadi lebih adem gitu loh Pak," tutupnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas