Duh, Ambil Jenazah Terpaksa ''Gadaikan'' KTP
Ia "menggadaikan" KTP-nya di rumah sakit sebagai jaminan
Editor: Johnson Simanjuntak
Adapun ambulans yang membawa jenazah Elida ke tempat tinggalnya merupakan milik RW 019.
"Ini pemberian (anggota DPR dari Partai Gerindra) Pak Aryo Djojohadikusumo untuk RW," kata Ricardo, yang menyetir sendiri ambulans dari RSUD Koja ke Kampung Beting.
Jenazah lalu dishalatkan di mushala dan dimakamkan di TPU Budi Dharma, Semper. Biaya kain kafan, pemakaman, tahlilan, dan segala keperluan merupakan hasil patungan warga RT 003 RW 019.
"Dimakamkan hari itu juga sekitar pukul 14.30," ujar Agus, Ketua RT 003.
Meski pengurusan jenazah sudah selesai, nasib KTP Alfaris masih belum jelas.
"Nanti akan dibicarakan. Kemungkinan warga sekitar sini kembali akan patungan untuk mengambil KTP Alfaris yang dijadikan jaminan di rumah sakit," tutur Agus.
Menurut Ricardo dan Agus, Elida terdaftar sebagai anggota Jaminan Kesehatan Nasional dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Namun, saat pengambilan jenazah, dia masuk kategori umum sehingga harus membayar Rp 605.000 biaya penanganan.
Warni dari Bagian Perencanaan dan Keuangan RSUD Koja menuturkan, Elida masuk kategori umum karena pihak yang bertanggung jawab tidak menunjukkan kartu BPJS Kesehatan.
"Ada biaya penanganan dan tindakan. Jika memang ada kartu BPJS, mestinya bisa diproses," katanya.
Ia menambahkan, jaminan KTP dan surat pernyataan dari pihak bertanggung jawab adalah bagian dari prosedur jika tidak dapat membayar biaya penanganan jenazah. Jaminan diperlukan agar yang bertanggung jawab tidak lepas tangan untuk melunasi pembiayaan.
Suka membantu
Agus menyebutkan, Elida sudah hampir 10 tahun tinggal di Kampung Beting dan dikenal sebagai sosok yang baik.
Elida pernah berjualan kopi dengan keranjang di Jalan Cilincing Raya dari sore sampai malam. Namun, karena tak punya modal lagi, dia menjadi juru parkir liar.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.