Tribun

Cerita Korban Penyekapan Berusaha Kabur dari Rumah Kosong Pondok Gede Selama 4 Jam

"Tangan saya diikat ke belakang, mulut dan mata saya ditutup lakban, mau teriak enggak bisa, cuma bisa istighfar dalam hati," katanya

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
zoom-in Cerita Korban Penyekapan Berusaha Kabur dari Rumah Kosong Pondok Gede Selama 4 Jam
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Sandy Hidayatullah korban penyekapan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sandy Hidayatullah (19), mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Islam 45 tidak pernah menyangka bakal mengalami nasib sial jadi korban begal hingga disekap disebuah rumah kosong di Pondok Gede.

Sandy hingga kini belum tahu persis letak lokasi penyekapan. Dia hanya ingat disekap sebuah rumah kosong yang dindingnya kotor dan tak terawat penuh dengan coretan.

Baca: Komisi VIII Sesalkan Peristiwa Penyekapan Anak di Makassar

Informasi bahwa dia disekap di Pondok Gede pun diketahui ketika dia ditolong warga sekitar.

Namun sebelum ditolong warga, kisah dramatis Sandy yang berusaha menyelamatkan diri cukup rumit.

Saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 27 Oktober 2018 di Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Sandy menceritakan bagaimana ia disekap di rumah kosong.

Dia memperkirakan berada di rumah penyekapan sekira pukul 02.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Selama kurang lebih empat jam disekap, Sandy mengaku hanya bisa beristigfar dan beroda agar bisa diselamatkan.

"Saya udah enggak bisa apa-apa, tangan saya diikat ke belakang, mulut dan mata saya ditutup lakban, mau teriak enggak bisa, cuma bisa istighfar dalam hati," jelas dia.

Sandy mencoba berulang kali melepas ikatan lakban yang melilit tangannya, bahkan ia sudah merasakan lengannya sakit akibat telalu lama diikat.

Penderitaan Sandy juga diperparah dengan luka bacokan saat ia dibegal yang belum sempat mendapat perawatan sama sekali.

"Perasaan udah mulai enggak tenang, sudah mau nangis nahan sakit, minta tolong tapi enggak bisa apa-apa karena keadaan diikat mulut dilakban, saya cuma bisa melihat dari celah-celah lakban yang nutupin mata saya dengan cara medangak," ungkapnya.

Hingga azan subuh berkumandang, Sandy terus berusaha melepaskan ikatan tangan dan lakban yang menutup mulutnya. Tapi upayanya belum menuai hasil.

Hingga kemudian dia berusaha mencari sesuatu yang bisa merobek ikatan lakban yang melilit lengannya sambil berusaha mendorong lilitan lakban yang juga melilit di mulutnya dengan lidah.

"Akhirnya, saya coba buka lilitan lakban yang ada di mulut saya dengan paku yang ada di kusen jendela, saya mau buka ikatan di tangan saya tapi sulit karena posisi tangan ada di belakang, mau buka ikatan di mata pakai paku itu juga saya gak berani takut kena mata, akhirnya hanya mulut aja yang penting saya bisa teriak," jelas dia.

Sekira pukul 06.00 WIB, dia berusaha mencari bantuan dengan keluar dari dalam rumah kosong tempat penyekapan. Sempat beberapa orang dia temui tapi malah kabur karena takut melihat saya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas