Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tilang Elektronik di Jakarta, Tak Kenakan Sabuk Pengaman Jadi Pelanggaran Terbanyak

"Jadi rata-rata safety belt, kemudian kedua ganjil-genap dan ketiga bermain telepon genggam," ujar Yusuf

Tilang Elektronik di Jakarta, Tak Kenakan Sabuk Pengaman Jadi Pelanggaran Terbanyak
WARTA KOTA/WARTA KOTA/Feri Setiawan
Petugas Traffic Management Center (TMC) memantau lalulintas pada monitor di ruang monitoring TMC Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (1/7/2019) Uji coba sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) mulai diberlakukan pada Senin (1/7/2019) di 10 titik di ruas Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin. Warta Kota/Feri Setiawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tidak menggunakan sabuk pengaman atau safety belt menjadi temuan terbanyak pelanggaran yang dicatat dari Elektronic-Traffic Law Enforcement (E-TLE) di DKI Jakarta.

Diketahui, 10 kamera canggih dipasang per 1 Juli 2019 untuk melengkapi program tilang elektronik atau E-TLE, yang sebenarnya telah dijalankan sejak November 2018 silam.

Baca: Hilangkan Image Polisi Tukang Tilang Lewat Program E-TLE

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusuf, menyebut pengendara roda empat di Ibukota kebanyakan melanggar aturan pemakaian safety belt. Kemudian diikuti aturan ganjil-genap, serta pemakaian gawai saat mengemudi.

"Jadi rata-rata safety belt, kemudian kedua ganjil-genap dan ketiga bermain telepon genggam," ujar Yusuf saat dikonfirmasi, Sabtu (6/7/2019).

Di sisi lain, penerapan program E-TLE diklaim telah menekan pelanggaran lalin hingga 44 persen di dua titik yang ada di kawasan Sudirman-Thamrin. Yakni di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha dan Simpang Sarinah.

Kepala Seksi Surat Tanda Nomor Kendaraan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kompol Arif Fazlurrahman, mengharapkan penambahan 10 kamera canggih di titik-titik selain kawasan Sudirman-Thamrin dapat menekan angka pelanggaran.

"Harapannya di atas 50 persen bisa menurun secara signifikan," kata Arif.

Ia juga menjelaskan apabila seorang pengendara melakukan pelanggaran yang sama dalam waktu satu hari, maka hanya akan dihitung satu kali melakukan pelanggaran.

Namun, apabila jenis pelanggarannya berbeda, maka pelanggaran pengendara tersebut akan diakumulasi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas