Tribun

Bunga Khatulistiwa TVRI TampilkanTarian, Nyanyian dan Talk Show Bersama Al Haris

Televisi Republik Indonesia bekerja sama Studio 26.artlink pimpinan Ati Ganda menggarap program variety show yang berbeda dari yang pernah ada

Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Bunga Khatulistiwa TVRI TampilkanTarian, Nyanyian dan Talk Show Bersama Al Haris
Dok. TVRI
Bunga Khatulistiwa TVRI TampilkanTarian, Nyanyian dan Talk Show Bersama Al Haris 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Televisi Republik Indonesia (TVRI) bekerja sama Studio 26.artlink pimpinan Ati Ganda menggarap program variety show yang berbeda dari yang pernah ada. Namanya 'Bunga Khatulistiwa'.

“Bunga Khatulistiwa adalah program variety show, yang berisi tarian, nyanyian, talk show tentang beragam hal terkait budaya dan kesenian asli Indonesia. Kami sudah menayangkan program ini dalam beberapa episode dan setiap episode mengangkat tema berbeda,” ungkap Barno, Koordinator Program TVRI dalam jumpa pers Bunga Khatulistiwa bersama Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos.

Al Haris hadir sebagai narasumber Bunga Khatulistiwa dalam episode 'Menjemput Semangat-Saatnya Bersyukur pada Pemilik Jagat Raya' karena bertepatan dengan Pemda Jambi merancang event Kenduri Swaranabhumi; Batanghari Dulu, Kini, Dan Nanti.

Event Swarnabhumi adalah sebuah kegiatan membangkitkan kembali semangat budaya Melayu Jambi. Acara ini dilaksanakan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, juga Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Lebih lanjut Al Haris menyebut Event Kenduri Swarabhumi akan melibatkan 11 kabupaten dan kota dalam wilayah provinsi Jambi.

“Masing-masing kabupaten dan kota yang dilewati oleh sungai Batanghari baik langsung maupun tidak, akan melaksanakan kegiatan yang berangkat dari kekayaan budaya tradisi yang hidup dan berkembang di masing-masing tempat tersebu,” kata Gubernur Al Haris

Al Haris menyebut Program Bunga Khatulistiwa sangat inspiratif dan mengedukasi masyarakat.

“Kami memandang perlu memperkenalkan budaya Jambil lewat acara ini,” kata Al Haris lagi.

Sementara itu, Ati Ganda sebagai Creative Director acara ini menyebut, Bunga Khatulistiwa selalu mengangkat satu tema dari dua provinsi berbeda di Indonesia.

“Misalnya kita angkat tema alat perkusi yang ditabuh. Ternyata ada Rebana Biang dari Betawi dan ada Rapai dari Atjeh yang satu sama lain punya kemiripan,” kata Ati Ganda.

Untuk penyediaan pengisi acara, baik penari, pemusik maupun narasumber ahli, Ati Ganda menjalin kerja sama dengan sejumlah sanggar yang terhubung dengan Taman Mini Indonesia Indah bahkan juga Pemerintah Daerah terkait.

“Seperti hari ini kami bekerja sama dengan Pemda Jambi dan Pak Gubernur Al Haris duduk sebagai narasumber bersama Dr Himar Farid Dirjen Kemendikbud Ristek menerangkan program budaya yang akan mereka laksanakan,” ujar Ati Ganda.

Dengan mengangkat tagline Bunga Khatulistiwa, Ragam Seni dan Budaya Indonesia, acara ini secara tegas memperlihatkan ciri khas budaya Indonesia dalam kemasan Bhineka Tuggal Ika yang berbeda tapi tetap satu, dan tetap selaras, meski dalam keberagaman.

‘Bunga Khatulistiwa’ dirancang bertujuan memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia, terutama kepada anak-anak muda.

Kaum muda sekarang lebih mengenal music Barat, seperti tari hip hop, dan genre musik Lo-Fi Hip Hop ketimbang musik dan tari Tor Tor dari Sumatra Utara, atau musik-musik tradisional Indonesia lainnya.

“Sesungguhnya tidak salah, asal mereka tetap paham dan menghormati serta mau menjaga kekayaan budaya sendiri, yang justru sangat khas, unik, langka tidak ada bandingannya,” tutur Ati Ganda.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas